Posted by: Wim Permana on: Juli 7, 2008
Si kurus dan si gemuk …..
Hari minggu kemarin adalah hari yang hebat. Benar-benar luar biasa. Aku merasa produktif. Baik pagi, siang, sore maupun malam aku lewatkan dengan kegiatan positif. Alhamdulillah, aku senang.
Minggu pagi
Cerita bermula di Minggu pagi. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengikuti kajian di Masjid Kampus bersama Ustad Ridwan Hamidi. Lalu menjelang siang aku kembali bersyukur, Allah memperkenankan aku tidur sampai pukul 11.30 WIB. Bangun sebentar aku langsung Sholat ke Masjid Jogokaryan. Karena memburu sholat jama’ah, mau tidak mau aku harus mengendarai “belalang tempurku” dengan cepat. Sampai di sana, alhamdulillah, sholat jama’ah masih berlansgung. Tapi sayang, sudah sampai rakaat kedua. Aduh …
Minggu siang
Pulang dari masjid aku nyalakan komputerku. Misi kali ini adalah mengunduh sebanyak-banyaknya podcast yang terkait dengan pelajaran Grammar Bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku dapat banyak. Ada koleksi dari Grammar Girls dan satu lagi dari Red Pen editor. Lumayan buat belajar. Gratis! Wajar kalau aku mau belajar bahasa inggris lagi mengingat beberapa hari yang lalu aku baru saja diberi tahu oleh seorang english native speaker melalui email bahwa “your english is poor”. Ughhhh ….
Sambil menunggu selesainya men-download berkas-berkas podcast ini, aku masih sempat mencuci bajuku. Maklum belum punya istri (coba kalau udah punya, mungkin dia udah menawarkan untuk mencucikannya sebelum aku menyuruhnya. ngimpi kali ye). Tapi ya sudahlah, toh aku sudah terbiasa dengan rutinitas seperti ini. Lagipula Rasulullah adalah orang yang senang dengan pengikutnya yang mandiri. Dalam artian, kalau bajumu bolong ya jahit sendiri jangan suruh orang lain. Kalau baju kotor ya sebaiknya dicuci sendiri. Betul?
Syukur berganti syukur. Sekarang semua berkas podcast sudah berhasil ku-download. Sementara cucianku juga sudah kelar semua. Sudah dicuci, juga sudah dijemur. Tapi aku tahu, keringnya tidak mungkin hari ini. Kan panasnya sudah hilang. Tapi kering besok juga tidak masalah.
Minggu sore
Bakda Ashar kembali aku nyalakan komputerku. Lagi-lagi komputer. Maklum, saban hari komputer dan internet sekarang sudah benar-benar menjadi separuh nafasku. Mungkin memang agak hiperbolik, tapi itulah kenyataannya. Adapun keperluanku kali ini adalah menulis untuk 3GWeek. Dalam tempo satu minggu kemarin, aku sudah menyelesaikan 14 tulisan. Kurang satu lagi dari jumlah normal. Nah, rencananya mau ku bayar minggu ini juga. Alhamdulillah, tulisanku kali ini selesai juga. Kalau mau lihat silahkan klik di sini.
Nah yang paling menarik dan teramat sangat mempesona adalah obrolan yang terjadi antara aku dan temanku via YM. Sebenarnya, pada awalnya obrolan kami berjalan dengan normal bahkan menyenangkan. Maklum, topiknya emang bikin pemuda seperti aku ga bakal ngantuk; Pernikahan! lawan bicaranya juga cukup kompeten kok. Seorang teman yang aku pikir cukup mumpuni juga ilmu agamanya.
“Item gitu lho …..”
So, what’s hot? Nah di dalam chat ini terjadilah sebuah debat yang asyik. Soal pernikahan? Bukan! Tapi cuma soal warna kulit. Lho kok? Iya serius. Temanku ini, entah mungkin dia tersinggung karena perkataanku atau apalah, eh dia bersikeras menyebutku “wim kamu itu item”.
Permisi? Item, yang benar saja. Aku selalu menolak kalau dibilang “hitam”, “item” atau apalah yang sejenisnya. Alasanku sederhana saja, berdasarkan ilmu pengetahuanku, yang dinamakan hitam itu ya nggak seperti kulit miliknya umat manusia. Hitam dalam artian sebenarnya adalah ya seperti arang. Atau warna keyboard, warna cover laptop, cell phone atau yang mirip-miirp dengan itulah.
Lalu aku ini apa? Aku ini ya “Cokelat”. Begitu ujarku padanya. Tapi dia menolak. Pokoknya aku ini ya “item”. Bahasa anak gaulnya “item gitu lho”. Wah, darahku udah mendidih sebenarnya. Aku jadi teringat bahwa yang begini ini mungkin yang membuat Thierry Henry atau Samuel Eto’o jadi marah.
Hmmm, setelah lama berdebat kusir. Akhirnya temenku menyerah. Dia mengoreksi ucapannya. Dia mengganti “item” dengan “dark brown”. Your what?! Ini kan sama saja “menghina” tapi “sedikit-sedikit”. Ya terang aja aku lagi-lagi kembali agak panas. Grrhhhhhh …… dan debat pun kembali berlanjut.
Hasilnya
Hasilnya ya aku berarti “item” menurut dia. Ya sudah akhirnya selesai. Debat selesai. Kasus ditutup. Sebelum YM ditutup. Dia memberiku pesen yang bagus sekali. Apa itu?
Judul tulisan ini!
Note:
Lama aku ga nerima hal-hal yang kayak ginian. Mungkin aku harus nyadar juga kalau temenku ini benar adanya. Aduh tapi jangan dianggap kalau aku langsung musuhan sama dia. Soalnya dia kan hanyalah seorang muslimah. Masa aku musuhan sama temen sendiri sih. Oh ya ini pesan yang bagus dari dia dalam obrolan kemarin. Saya pikir semua manusia, khususnya pemuda yang ingin menikah, harus menghayati kalimat di bawah ini.
“Yah kalo kamu g bisa menghargai dirimu, bagaimana bisa kamu menghargai …. (red: calon istrimu)“
Sebuah ilustrasi tentang judul ini.
Ya allah, baikkah mendoakan seseorang untuk menjadi seperti ini?
Semoga Allah mengampuni kita semua dan memudahkan kita untuk mengambil hikmah dari hal-hal yang sudah pernah terjadi. Amin.
semoga tetap istiqomah ke maskam nya…
klo sudah pindah dari Yogya pasti kangen maskam dan kajian Ustadz Ridwan
ya allah!
kacian amat tu manusia!
ampuuun! ampe tulangnya ketara gtu!!! (”.. )
ya tu kacian bangt coba loh ja to” he…
1 | alva.hendi
Juli 8, 2008 pada 9:30 am
kamu emang item wim… ngaku aja lah,he3…
eh itu ilustrasinya dimana ya? sedih jg ya liatnya…