Month: September 2008

Selamat datang dan salam kenal

Assalamu’alaikum para pengunjung. Blog yang sedang anda antengin sekarang ini adalah blog kepunyaan Wim Permana. Kalau anda belum kenal siapa saya, saya sarankan anda membaca dulu halaman Tentang Wim. Tapi kalau sudah kenal, anda langsung bisa menikmati apa-apa yang sudah saya tulis di sini. Insyaallah membawa berkah dan manfaat. 

Oh ya, yang mau kenalan dengan saya bisa add saya di Friendster or chat menggunakan YM. Ini email saya:  wimkhan@yahoo.com. Nah khusus untuk para Job recruiters, kalau anda tertarik dengan lulusan Ilmu Komputer ’03 UGM satu ini, saya persilahkan anda untuk langsung melihat-lihat CV saya

Ups satu lagi, yang nge-fans dengan saya bisa jadi follower saya di Twitter. Monggo di pirsani segala aktivitasku sehari-hari di sana. 

Terima kasih dan wassalamu’alaikum.

Buta tapi Hapal Al-Qur’an

Oh ya Allah, hari minggu ini aku tersentak habis oleh sebuah laporan dari ANTV. Dalam laporan itu, ditampilkan sebuah profil singkat dari Pondok Pesantren Assyafii’iyah yang ada di Sampang Madura, Jawa Timur.

Dari luar, pondok ini memang kelihatan sebagaimana umumnya pondok-pondok pesantren salaf yang ada di daerah pesisir pantai pulau jawa; sederhana dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Tapi tunggu dulu, yang terjadi di dalamnya sungguh menakjubkan dan membuat terenyuh hati ini. Sungguh.

Dari sana, ANTV menampilkan sang Ustad atau Kiai yang sedang menyimak bacaan AL-Qur’an para santrinya. Aduh aku jadi bernostalgia dengan apa yang sering kulakukan sekitar 5 tahun lalu dengan Gus Hajjin Mabrur di Pondok Pesantren kebanggaanku Al-Munawwir. Hanya saja, yang membedakan antara aku dengan santri-santri di As-Syafi’iah adalah bahwa beberapa diantaranya ternyata berstaus Tuna Netra. Ya, benar sekali. Mereka tidak bisa membaca Al-Qur’an. Jangankan membaca Al-Qur’an lha wong melihat saja mereka tidak bisa.

Nah yang sekarang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mereka menghapal kitab suci umat islam ini? Subhanallah, jawabannya klasik sekali. Sang Kiai melafalkan bacaan Qur’annya di hadapan para santri sampai beberapa kali, lalu sang santri akan mengulang-ngulangnya. Itu saja! Tidak ada teknologi canggih, atau sesuatu yang akan diistilahkan dengan Al-Qur’an Braille atau headset bekualitas tinggi buatan pabrikan Belanda, Phillips. Ya Allah, cukuplah dengan telinga pemberianmu. Sudah itu saja.

Reporter ANTV yang sempat mewawancarai dua diantara para penghapal penjaga Al-Qur’an itu mendapat jawaban yang sangat syahdu untuk didengar. Ketika ditanya tentang sudah berapa juz yang mereka hapal, para calon hafiz ini menjawab mereka sudah mendapat sekitar lima atau belasan juz. Masyaallah, allahuakbar walilla hilhamd.

Kemudian, ketika dilontarkan sebuah pertanyaan, apakah mereka mengalami kesulitan dalam menghapal kitab suci yang indah ini, para hafiz yang rata-rata baru berumur belasan tahun itu cuma menjawab;

” $6qw7ehashda783*$#@ok2jf ……”

Sungguh aku tidak jelas mendengar apa yang mereka ucapkan. Benar lho. Demi Allah aku tidak bisa mendengarkan apa yang baru saja mereka katakan. Ini bukannya menghina. Tapi terus terang, saya justru lebih fokus kepada gerakan kelopak mata mereka yang ternyata sudah tidak memiliki warna hitam di dalamnya.

Mata itu putih,
putih saja…………

Ah ya allah, meneteslah air mataku. Bukan karena aku mengasihani para penghapal ini. Tapi jujur karena aku langsung membandingkan antara aku dengan mereka.

Mereka buta, mata memang ada tapi pupil dan retinanya hilang entah ke mana – Maha Suci Allah dengan segala cipta dan kehendaknya. Nah sementara aku, Wim Permana; aku sehat, mata bisa melihat, fisik juga lumayan kuat (aku terbiasa naik sepeda sejauh 30km lho ke Klaten), lulusan UGM lagi (alamat bahwa otakku sebenarnya cukup bsia diandalkan). Tapi kok, hapalan Al-Qur’anku tidak sampai dua juz banyaknya. Itu pun dulu ketika aku masih aktif menghapal dan menyetor hapalanku ke Gus Hajjin Mabrur di Komplek L Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Sekarang semua hampir berubah, surat-surat yang masih kuingat dengan kuat – karena baru kuhapal lagi baru-baru ini, adalah surat An-Naas sampai dengan As-Syams, sementara selebihnya hilang ditelan apa aku tidak bisa menjawabnya. Aneh memang. Kasih Allah memang tercurah ke mana-mana, ke siapa saja yang Allah berkehendak atasnya.

Mungkinkah ya Allah, hambamu yang berlumur dosa ini kembali ke haribaan para penjaga-penjaga wahyu-Mu yang agung itu. Atau cukup sampai di sinilah diriku. Sibuk dengan segala urusan duniawi yang sudah memakan lebih dari 80% hidupku.

Duhai,
Wahai para penghapal yang buta nun jauh di Sampang
Semoga Allah mencurahkan kasih sayangnya kepadaku
Sebagaimana kasih yang sudah dijatuhkan Allah kepada kalian semua

Amin ya robbal ‘alamin.

images

Dukung Wim Permana dalam kontes blog internasional!

Oke, it’s official! The BOBs has just accepted me on its contest. Take a look and vote me up.

Here is the page.

Oh yeah, should I tell you if this is a free-and-just-for-fun one.
Thanks for coming and sum up for that voting.

Wassalamu’alaikum!