Curhat soal Cabut Gigi


dentist tcm4-299516

Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagiku. Aku sebut begitu karena hari ini aku mengalami sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah aku alami; CABUT GIGI.

Tidak mudah tapi tetap bisa

Mencabut gigi ternyata bukan perkara yang mudah, baik itu bagi sang pasien yang giginya dicabut maupun bagi sang dokter yang melakukan pencabutan. Sebelum pencabutan dilakukan, si pasien ditanya dan diperiksa dulu kondisi gigi dan gusinya, sehat atau tidak. Jika sehat, maka proses pencabutan bisa dilakukan pada saat itu juga. Namun jika tidak, maka sang dokter akan memberikan resep kepada pasien untuk diminum sebelum proses pencabutan ini dilakukan.

Resep yang diberi dokter adalah obat-obat yang berfungsi untuk menghilangkan bengkak atau rasa nyeri yang hinggap di sekitar gigi yang akan dicabut. Aku sendiri memerlukan tiga hari untuk menghabiskan resep ini. Obatnya memang manjur; salah satunya adalah Amoxycilin, antibiotik yang sangat tersohor itu. Rasa sakit di gigi dan gusiku hilang. Begitu pula dengan bengkaknya. Awww…..

Harus siap secara fisik dan mental

Jika sudah “siap”, calon pasien yang giginya hendak dicabut boleh mendatangi klinik lagi. Faktor “siap” dan “tidak siap” ini sebenarnya sangat penting. Aku ingat, dahulu aku juga sempat hendak mencabut gigiku di klink gigi Puskesmas Parakan, DIY. Waktu itu dokter sudah memberiku resep yang harus kuhabiskan sebelum pencabutan itu dilakukan. Namun karena aku belum siap secara mental dan masih sibuk dengan berbagai urusan kuliah dan organisasi, akhirnya aku memutuskan untuk menundanya. Sampai tibalah hari ini ….

Hari Sabtu ini, 11 April 2009 aku benar-benar merasa sudah siap untuk melepas salah satu gigiku yang maha penting; gigi graham kanan atas. Menurut dokter yang memeriksaku, gigi graham atas adalah gigi yang sangat penting dalam proses pencernaan. Gigi ini adalah salah satu gigi utama yang digunakan untuk proses pengunyahan makanan. Jadi sudah terbayang bukan kalau gigi graham atas ini dipaksa hilang?

“Ya ompong,” begitu kata dokter.

mm dentist

“Bisakah diganti dengan gigi palsu dok,” tanyaku.

“Oh tentu saja bisa. Biayanya 200 ribu. Nanti setelah dipasang, gigi palsu ini harus sering-sering dilatih untuk mengunyah agar bisa menggantikan fungsi gigi asli. Proses latihan biasanya memakan waktu seminggu atau lebih.”

“Ohhhh….. begitu,” jawabku.

Aku tentu saja berbahagia dengan jawaban dokter gigi di Puskesmas Mantrijeron ini. Selain biaya pemasangan yang lumayan terjangkau, aku juga senang karena aku berarti masih memiliki kesempatan untuk memasang salah satu elemen penting dari ragaku yang sangat berperan dalam kesehatan tubuh.

Akhirnya …

“Oke Mas, kita suntik dulu ya,” kata dokter gigi dengan santainya.

“APA! WHAT! MASYAALLAH! Yang benar saja dok, gila apa! Masa gusiku disuntik. Kan sakit,” bentakku di dalam hati.

——-

Dan ternyata memang begitu…

Pada saat jarum suntik itu mengenai gusiku, tubuhku rasanya menjadi tegang. Apalagi di sekitar bagian yang disuntik. Ampun mak …. ternyata tidak hanya sekali, tapi sekitar tiga kali. Untunglah aku tidak mendengar suara khas ilustrasi jarum suntik seperti yang sering ada di buku-buku cerita zaman dulu, “jus … jus… jus..”. Semua suntikan benar-benar “mematikan”. Kalau anda bilang seperti digigit semut, berarti anda sedang membicarakan semut yang besar dengan gigi yang sangat kuat nan tajam. Hahahahaha ….

Tapi aku senang dan bisa menerima semua ini. Aku tahu, tanpa semua suntikan ini, jangan harap aku bisa diam ketika sang dokter memasukkan tang kecil (seperti tang tapi lebih kecil dan “etis”) untuk memaksa gigi grahamku keluar dari sarangnya akarnya.

“ARGGHHHHHHHHGGHHHH ….,” jeritku dalam hati ketika membayangkannya.

Sambil mengutak-atik bagian luar gigiku, sang dokter, seperti kebanyakan dokter lainnya, mulai mengajakku ngobrol mengomentari kondisi gigiku.

Sang dokter berkata dengan nada sinis, “kok gigimu sampai rusak seperti ini sih Mas.”

“………” aku tuliskan dengan titik-titik karena aku memang tidak menjawab dan bagaimana pula aku mau menjawab kalau rongga mulutku sedang diobok-obok.

Aku hanya bisa bergumam dalam hati,

“Ya Allah, aku minta maaf, sampai usiaku menginjak 24 tahun, aku selalu menganggap remeh aktivitas periksa gigi secara rutin. Dulu aku tahunya ke dokter gigi ya kalau pas gigiku sakit saja. Dengan kata lain, kalau si graham sudah terasa sangat ngilu untuk makan, kalau si gusi sudah bengkak, dan sejenisnya. Jadi kalau tidak sampai seperti itu, maka aku akan menahan dan memberikan antisipasi secukupnya seperti meminum air garam, meminum air putih yang sudah dimasuki Permen Benson rasa mint yang sudah dijampi-jampi, memasukkan minyak angin cap Kapak ke dalam gigi dengan kapas, dan sebagainya.

Sekarang aku sadar ternyata aku salah besar. Periksa gigi harusnya dilakukan secara rutin, minimal tiga bulan sekali (kalau lagi cukup anggaran) atau enam bulan sekali (jika uangnya memang sedang kurang). Kalaulah gigi kita memang tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, maka dengan datang ke dokter gigi kita bisa tahu apakah ada gigi kita yang harus ditambal atau ada gigi yang harus “dikerok” plaknya.”

———-

Sang dokter mulai melakukan sedikit pengeboran di bagian yang rusak. Meskipun aku tidak bisa melihat, tapi aku tahu bahwa sang dokter melakukan ini agar ada ruang untuk tang kecil yang akan digunakan untuk proses pencabutan giginya. dari dalam mulutku mulai tercium bau sesuatu yang terbakar. Hehehe, sebenarnya tidak ada yang terbakar di dalam sana. Bau itu berasal dari gesekan yang tejadi antara bor milik dokter dengan gigi yang dibor. Sakitkah? Sama sekali tidak! Kan sudah dibius.

“Sekarang coba buka mulutnya lagi. Tahan ya.” ujar dokter dengan tenang.

Aku menganggukkan pelipisku sedikit tanda setuju.

Dan graham itu

“Ini lho giginya… ck, ck, ck, … coba dilihat.”

“Innalillah, ya amprut …, kok jelek banget ya. Sampai menghitam begitu.” ujarku dalam hati.

“Sekarang kumur-kumur. Sekali saja, jangam banyak-banyak. Nanti airnya habis.” dokternya mulai agak kesal nih.

Masa air buat kumur-kumur habis. Hahahaha, di saat seperti ini orang Palembang biasanya akan berkata, “cemeke’an“.

“Ayo buka lagi Mas. Sekarang kita harus mencabut akar giginya. Ada tiga,” pinta sang dokter.

“Alamak …. belum selesai toh,” aku setengah terkejut tapi tetap pura-pura tenang. Padahal hatiku sedang bergemuruh pedih.

“Siap ya, …….. satu….. dua…… tiga ….., ya ini dia akar giginya. Pada rusak semua,” kata dokter dengan gembira.

“Alhamdulillah, akhirnya ….,” gumamku.

“Nah sekarang kita ambil dulu serpihan-serpihannya. Kalau tidak diambil nanti (bekas cabutan) tidak bisa menutup.”

“Upppsss.. masih belum toh,” aku jadi tambah penasaran.

Setelah selesai dengan pengambilan serpihan-serpihan tadi, sang dokter sepertinya memasukkan sesuatu ke dalam gusiku. Aku bisa tahu beliau melakukan ini hanya dengan memvisualisaikan apa yang sedang kurasakan. Inikah indra keenam? Sayang sama sekali bukan. Ini adalah kemampuan alamiah seorang anak manusia. Kita umumnya bisa tahu bentuk kasar sebuah benda ketika benda tersebut mengenai kulit kita. Sebagai contoh; kita bisa tahu beda antara “ditusuk“, “dicubit“, dan “digebuk” hanya dengan merasakannya. Sementara informasi tentang bendanya sendiri kadang kita tidak tahu. Setuju?

Masuknya suatu benda ke dalam gusiku tadi adalah pertanda bahwa proses CABUT GIGI yang dahsyat ini – setidaknya bagi saya – sudah selesai. Sebagai peredam rasa sakit, dokter memberiku perban berbentuk khusus yang harus kugigit selama 1 jam. Oh tentu saja, perban khusus, siapa yang bisa menolaknya kalau pas sakit begini. Satu lagi, tolong jangan makan yang panas-panas ya selama seminggu ini. Oke sus ….

———

Hanya 22 ribu rupiah

Alhamdulillah wa syukurillah, aku bersyukur banget. Selain proses cabut gigi ini berjalan dengan lancar, aku juga masih bisa tersenyum sedikit karena total biaya yang kuhabiskan untuk semuanya hanya 22 ribu. Dengan rincian lima ribu untuk biaya daftar dan 17 ribu untuk cabut giginya sendiri. Asyik deh, lumayan buat aku yang masih pengangguran belum punya penghasilan tetap.

Sesampainya di kos, aku tersenyum simpul sambil memandangi wajahku sendiri. Mungkin inilah yang disebut dengan “Cinta itu tidak harus memiliki“. Terus terang aku sangat mencintai gigiku, tapi demi kebaikan tubuhku secara umum, aku dengan rela melepas gigi grahamku.

Selamat tinggal wahai gigi graham atas. Semoga engkau damai dalam perhentianmu selanjutnya. Terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Mohon doanya agar aku bisa mendapatkan pengganti yang sepadan.

Tidak lupa aku sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dokter gigi di klinik gigi Puskesmas Mantrijeron DIY, semoga Allah berkenan membalas kebaikan anda semua. Amin.

Salam sayang dari saya, Wimkhan.

14.00 WIB, 11 April 2009
Kos Nyonya Noto Wigeno
Jalan KH Ali Maksum Nomor 130
Krapyak, DI Yogyakarta 55143

image1 | image2

About these ads

Published by

Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

25 thoughts on “Curhat soal Cabut Gigi”

  1. Sama, mas. Aku baru2 ini juga hbs cabut geraham bungsuku yang kiri bawah. Katanya tidak ada ruang buat tumbuh, jadinya bikin bengkak. Pas nyabutnya sih gak ngerasa sakit, lha dibius, cuma ngeri aja mendengar suara bor dan membayangkan apa yang dilakukan dokter pada gigiku :-D Sakitnya habis dicabut, waktu efek biusnya mulai memudar.

    Btw, aku cabutnya di RSGM Kedokteran Gigi UGM, murah kalo pake GMC, diskon 75%. Sayangnya GMC dah gak berlaku buat Mas Wim :D

  2. wim saran aku klw mau cabut gigi apalagi ada uang lebih di dokter spesialis gigi be, ga sakit..aku udah pernah nyoba di dokter gigi tomas plg..
    btw u ganti no telpon y?
    pusri ada loker wim..www.ppjkunsri.com

      1. Itu sudah lama sekali. Cabut giginya di jogja. Di puskesmas daerah jogokaryan. Silahkan ke sana. Atau cari dulu d google maps lokasinya. Jogjakan relatif kecil.

  3. Wah, pas banget ceritanya. Saya juga sedang berjuang nih hendak merelakan gigi geraham bawah. Ceritanya mantep, detil banget.

    Thanks for share.

      1. awalnya sakit. tapi kalau sudah sembuh (seminggu setelahnya) enak banget. ga perlu khawatir sakit gigi di tengah makan or minum.

        thanks buat dokter n pendukung2nya.

  4. Hik…hik sama yang terjadi dengan diriku, udah ilang 1 gigi ku graham bawah, klw untuk proses pencabutan kayaknya ampir saja, klw ingat jadi serammmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

  5. hmm..lagi menguatkan tekad mau nyabut gigi busuk yg udah mulai ganggu nih..
    gugling buat nyari couraging story, jadi mampir kesini..
    makasih sharingnyaaaa..
    Rinci looh..

    salam.

  6. ampun dah… jadi jiper juga mau cabut gigi…
    padahal dah hampir cabut gigi kemaren, tapi pas tanya biayanya di dokter gigi aje gile 200 rebu… mahal amir…

    setelah tanya2 ke temen, katanya mending ke puskesmas aja… ga sampai 100 rebu.

    besok rencana mau ke puskesmas.. doain ya temen2…

    wawwiwiwaw.blogspot.com

  7. Aku dah ambil syaraf n lg rawat syaraf nih blm di tambal permanen krn sakit terus.. ada 3 gigi.nya lg proses tapi yg 1 dah gak bisa selamat harus dicabut n pasang gigi.. ketiganya bagian depan atas

    Pas diambil syaraf disuntik 3x, 2 didepan 1 dibelakang., yg paling sakit dibelakang. dan akan terasa kembali sakitnya seperti apa sampai 3x lagi krn geraham bawah ada yg lubang dan tinggal sisa2 musti dicabut..

    Doakan saya kuat merasakan sakitnya kembali.. Demi kesehatan mulut dan gigi serta tubuh. Harus dikelarin semua..
    Ini karena kelalaianku ada gigi bolong dikit dibiarin ampe habis semua yg belakang.. :'(

  8. thn 2006 lalu karena ada kecurigaan penyebab bengkaknya kelenjar tiroid adalah dari gigi maka dokter memutuskan mencabut 5 gigiku. saat itu sama sekali ngga terasa sakit karena dibius total (sekalian operasi mengambil benjolan tiroid di leher). dan mulai 2 bulanan ini gigi mulai sakit, atas – bawah – kiri – kanan, gantian. tau sendirilah kalo pas kumat… rasanya mending dipenggal sekalian leherku ini. dan ketika coba cek ke dokter gigi, dia menyatakan ada 6 gigi lagi yang harus segera dicabut. tapi ya krn agak2 jiper…sampai saat ini msh ku-tunda2 sambil minum antibiotik dan ngumpulin keberanian dulu. jg msh ada kekuatiran, kl cabut di puskesmas, alatnya benar2 steril gak ya… takutnya malah muncul infeksi..

  9. baru baca sih, kok murah yaa..
    aku ajacabut geraham bungsu kiri atas bawah dua tahun yang lalu, dan cabut lagi yang kanan geraham bungsu atas bawah kemarin. sekarang lagi bengkak2nya. tapi bisa ketawa2 sih.. :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s