What I did good on Saturday, February, 26th 2011

Bismillahirrahmanirrahim.

ea794d77-2eab-401a-b7d5-5cce14bba030

Ikan Nemo (clownfish) – bisa jadi inspirasi desain web app maupun kaos.

  1. Baca qur’an. Terus tidur lagi.
  2. Aan liputo nawarin aku makan bareng di rumahnya sayang aku tolak. Maklum capek banget. Duh Allah, alangkah capeknya kalau kerja sampai larut malam.
  3. Alhamdulillah, aku berhasil memisahkan dua tabel di halaman depan website dppkad. Ternyata rahasianya ada di css padding. Cukup dengan menambahkan skrip padding 5px 10px 10px 10px di contentpaneopen. Akhirnya …. Alhamdulillah.
  4. Coba theme suffusion dan wordpress 3.1. keren abis. Opsinya bejibun. Sekarang tinggal akunya saja yang sabar atau tidak. Kalau tidak sabar, nasib theme ini bakal persis seperti theme2 lainnya. Jatuh sebelum berkembang. And I don’t like that. Really!
  5. Di kantor sampai jam 8 malam. Kebeneran mati lampu juga.
  6. Kita diajak Pak Kadis ke restoran mawar sharron. Wow, mantap makanannya. Aku pesen es kacang susu plus ayam. Sama dapat udang tepung juga. Alhamdulillah. Keren bro. amin.
  7. Pergi dan Baliknya diantar sama Pak Syugiyanto Ayuba. Mantap! Maksudku mantap gratisnya!
  8. Si Budi konsultasi soal laptop Dell M301z. Mantap! Akhirnya dia jadi membelinya. Harganya 4,9 juta plus dvd rw eksternal.
  9. Minta bantuan soal Joomla kepada Fuad. Bagaimana cara mengatur tampilan news biar tampil 3 kolom bukan colspan = 2.
  10. Strike 3.

…… he’s busy fixin’ himself …….

Alhamdulillahirabbil’alamin.

image

Sebulan menjadi CPNS: catatan kecil Wimkhan (Bagian 1)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

98402a33-e252-421a-818d-25e5d8c98da6

Padi dan sawah. Dua magnet di Limboto akan yang selalu menarik hatiku.

Pengantar

Dulu sewaktu aku masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi, aku benci dan gak mau banget menjadi PNS. Entah kenapa, saya agak bingung juga. Mungkin salah satu faktornya adalah karena kebodohanku sendiri; dulu aku pikir semua PNS sama saja!

Wim Permana: Pemuda yang menelan ludahnya sendiri

Tidak terasa sudah sebulan penuh saya menjadi CPNS. Kalau tidak salah, Senin pada tanggal 17 Januari 2011 kemarin saya dan ratusan CPNS Kabupaten Gorontalo lainnya menerima SK penugasan dan penempatan kami. Sungguh pengalaman yang sangat aneh sekaligus membanggakan. Saya sebut aneh karena sebenarnya sejak kecil saya tidak pernah merasa bercita-cita menjadi seorang CPNS. Di Kabupaten Gorontalo lagi. Sebuah kota yang letaknya ribuan kilometer dari tanah kelahiran saya di Pulau Sumatera, Kota Palembang. Subhanallah … hmmm, aneh bukan?

Tapi di sisi lain juga membanggakan. Soalnya menjadi CPNS itu sendiri tidak mudah. Selain harus bersaing dengan peserta lain yang jumlahnya mencapai ribuan, kita juga harus siap untuk bersaing melawan faktor non eksternal yang justru tempo hari saya anggap lebih berat; mengurus berkas dan tetek bengek lainnya! Wakakak … yang sekarang sedang jadi PNS atau sudah pernah jadi PNS pasti tahu tentang hal ini.

41bc2da4-4ec5-4825-9178-1961502497eb

Tidak hanya katak yang sering menelan ludahnya sendiri. Saya juga bisa kok.

Dinas PPKAD: Tempat lama dengan status baru

Sewaktu menantikan penyerahan SK CPNS, saya dan teman-teman sejawat merasakan gugup yang sama. Kita deg-degan sebelum mengetahui di mana kita ini akan dibuang ditempatkan. Di wilayah Lomboto kah? Di Batudaa Pantai kah? ataukah malah di wilayah nun jauh di sana, di Boliyohuto. Saya sendiri waktu itu sempat merasa agak sedikit janggal dan “lemas” ketika Pak Hariyanto Manan – Kepala Seksi Anggaran di DPPKAD – menyeletuk kepada saya bahwa saya ternyata ditempatkan di Kecamatan Boliyohuto.

“Waduh” begitu kata hati saya, “apa gak salah nih di sana. Ntar ngapain anak IT (information technology) di Boliyohuto.”

Eh, dasar memang Pak Yanto Klose suka bercanda …. ternyata aku ditempatkan di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah alias DPPKAD. Nah kalau dinas yang satu ini sudah tidak bisa lagi “menggugupkan” jantungku. Maklum aku sudah pernah kerja enam bulan di sini sebagai FS SIPKD.

Continue reading Sebulan menjadi CPNS: catatan kecil Wimkhan (Bagian 1)