Rembulan Sore


Rembulan Sore

oleh Wim Permana

Tampak di mataku Engkau Kini

Biru Lembut Warna Ronamu

Redup Temaram Cahya Kelabu

Sssttttt ….

Teruslah bersinar duhai rembulan

Tak perlu kau tunggu gelapnya sang malam

biarpun hujan datang, angin menggemuruh, …… tsunami melaju

tetaplah disitu,

aku ingin terus melihatmu

menatapmu,

sampai jemu datang menghantu

sungguh

aku ingin katakan sesuatu padamu
deklarasikan sesuatu
sesuatu
sebelum Tuhanku sendiri tahu ?

…. Apa itu ….

Ah, aku jadi malu
{}

bahwa aku sayang sekali sama kamu ……
Jangan keluhkan itu ya ….

Duhai Tuhanku, bolehkah aku menginjak ciptaanmu itu
Tidak adil kalau aku tulis terus
aku puisikan terus

suatu hari bolehlah aku bertamasya ke sana
dengan sanak keluarga
dari bumi yang bundar perasaannnya

Engkau dengarkan bukan ……
Jangan-jangan engkau sedang bercengkrama dengannya sekarang

ya ….

Aku akan cemburu kalau memang seperti itu

Senin, 19 September 2005, Krapyak, Yogyakarta

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s