SBY Vs Microsoft


oleh Maya

Heboh isyu sweeping Microsoft dibeberapa tempat di Indonesia, sempat membuat kepanikan sendiri bagi beberapa kalangan, termasuk kalangan akademisi dan pemerintahan. Kita pun mungkin juga sedikit terhenyak mendengar kabar tersebut, karena bisa dibilang selama ini kita lumayan ‘tenang-tenang’ saja menggunakan software Microsoft bajakan, bahkan kemudian menggunakan produk illegal tersebut menjadi suatu hal yang biasa dan sah-sah saja.

Isyu ini muncul setelah Presiden SBY akhir bulan Mei lalu bertandang ke Seattle, Amerika Serikat, untuk mengadakan pertemuan dengan bos besar Microsoft Incorporated, Bill Gates. Sebagaimana dilansir oleh sejumlah media, Menteri Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil menegaskan bahwa nantinya akan ada nota kesepahaman antara pemerintah dan Microsoft untuk ‘memutihkan’ penggunaan aplikasi bajakan yang digunakan di kantor-kantor pemerintah.

Pernyataan ini tentu melegakan bagi kita semua. Tampaknya Microsoft masih berbaik hati kepada kita dengan memberikan pengampunan atas pembajakan software buatan mereka. Padahal, jika dilihat dari kuantitasnya, angka pembajakan software di dalam negeri sudah tidak terhitung lagi mungkin.

Selain masalah ‘pemutihan’ software bajakan, ternyata ada berita bagus buat masyarakat Indonesia. Dari pertemuan tersebut, disepakati pula mengenai rencana pendirian Pusat Riset Microsoft (Microsoft Resecarh Center). Dari kerjasama tersebut diharapkan adanya produk-produk aplikasi bidang teknologi informasi yang terjangkau bagi masyarakat luas negeri ini.

Sinyal adanya pendirian pusat riset Microsoft di dalam negeri tentu sangat menggembirakan bagi kita, khususnya masyarakat Teknologi Informasi (TI). Jika proyek ini benar-benar terealisasi, maka akan menjadi “cambuk” bagi perusahaan-perusahaan lain untuk menjalin simbiosis mutualisme dengan pemerintah Indonesia dalam penyediaan dan pengembangan TI dalam negeri. Disamping itu, institusi tersebut nantinya akan dapat menggairahkan kembali minat masyarakat untuk akrab dengan informasi dan teknologi.

Sejauh ini, dua diantara empat pusat riset Microsoft berada di Asia. Pertama di China yang dinamakan dengan Microsoft Research Asia Center yang mempekerjakan sekitar 180 tenaga ahli dan kemungkinan akan terus bertambah. Menariknya, pusat riset ini tadinya bernama Beijing Research Center yang merupakan pusat riset nasional China tentang IPTEK. Berkat lobi-lobi intensif pejabat China, Microsoft akhirnya bersedia mengambil alih lembaga tersebut. Salah satu hasil nyata keberadaan lembaga ini adalah dengan turunnya tingkat pembajakan software di China, meskipun masih dalam jumlah yang tidak terlalu besar.

Selain di China, Microsoft juga memiliki pusat riset di India yang dipusatkan di Bangalore. Pusat riset ini akan difokuskan pada geographical information systems, multilingual systems, serta sensor networks and technologies untuk memperkuat pasar. Uniknya, India tidak hanya berhasil menarik Microsoft untuk datang ke negaranya, namun raksasa-raksasa di bidang teknologi informasi lain, seperti IBM dan HP juga mendirikan fasilitas riset di sana.

Dampak positifnya, tenaga ahli dan profesional TI India kini memperoleh pengakuan dari dunia internasional untuk bersaing dalam kancah internasional. Keberhasilan India juga tidak terlepas dari kebijakan India dalam mendesain pendidikan tinggi dibidang teknologi yang terbukti menghasilkan lulusan yang tidak hanya qualified dan berintegritas tinggi sesuai bidangnya, tapi juga memiliki keahlian dalam berkomunikasi menggunakan bahasa inggris.

Ada beberapa manfaat yang bisa didapat dengan kehadiran pusat riset Microsoft di dalam negeri. Pertama, percepatan transformasi ilmu dan pengetahuan. Akan semakin banyak tenaga ahli TI yang dilibatkan dalam proyek dan riset yang dilakukan oleh Microsoft. Kehadiran mereka akan semakin nyata jika riset yang dilakukan berkaitan dengan pasar lokal. Minimal tenaga-tenaga kita memperoleh pencerahan dan wawasan baru.

Di samping itu, dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, akan menemukan mitra yang tepat dengan kualifikasi yang tak diragukan lagi. ITB dan ITS misalnya, dua PTN yang selama ini menjadi kiblat PT di bidang Teknologi, dapat menjajakinya dengan menawarkan sejumlah kerjasama riset teknologi. Apalagi, ternyata pemerintah telah menugaskan kepada kedua PTN tersebut guna menindaklanjuti rencana pembangunan Pusat Riset Pengembangan Piranti Lunak yang berorientasi kepada produk unggulan buatan Microsoft, semisal Sistem Operasi Windows, .NET Platform, Microsoft Office, dsb. Hal ini juga sejalan dengan Tujuan Peraturan Pemerintah tentang alih teknologi, diantaranya;

  1. menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
  2. meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan masyarakat dan negara.

Kedua, menumbukan kepercayaan pihak asing terhadap pemerintah. Jika kehadiran pusat riset Microsoft di Indonesia mendapatkan respon positif dari masyarakat, bukan tidak mungkin raksasa TI lainnya akan turut menanamkan investasinya di Indonesia. Dan itu berarti sebuah peluang baru, baik dari segi tenaga kerja maupun transformasi IPTEK. Kepercayaan hanya akan diraih jika pemerintah dapat menjaga komitmen dengan nota kesepahaman yang telah disepakati. Presiden SBY telah sendiri mengaskan bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang menghargai hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Artinya, masyarakat harus ikut berpartisipasi dengan menekan sekecil mungkin angka penggunaan software bajakan. Apalagi untuk produk-produk buatan Microsoft.

Ketiga, makin dimanjanya masyarakat Indonesia dengan produk-produk orientasi lokal. Meskipun angka partisipasi penggunaan TI dalam negeri belum besar, namun dari tahun ketahun menunjukan perkembangan yang cukup signifikan. Ini tentu merupakan pangsa potensial bagi Microsoft sendiri. Apalagi jumlah penduduk Indonesia lebih dari 225 juta jiwa. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat akan memiliki daya beli yang cukup untuk menggunakan produk-produk buatan Microsoft yang bercitarasa lokal. Dengan demikian akan semakin banyak rakyat Indonesia yang “melek” dunia TI.

Memang benar, selain Microsoft, masih banyak produk aplikasi buatan perusahaan lain, tetapi harus diakui juga bahwa untuk saat ini hingga beberapa dekade ke depan tampaknya Microsoft masih akan terus memimpin pasar dibidang TI, baik itu untuk level global maupun lokal.

Bandingkan dengan software-software yang ber-platform GNU/Linux atau Macintosh yang umumnya hanya dikenal oleh komunitas tertentu saja. Jumlah penggunanya masih sangat kecil bila dibandingkan dengan yang dimiliki Microsoft.

Dalam dasawarsa terakhir ini, Indonesia boleh dikatakan tertinggal dalam hal penggunaan serta penyedian infrastruktur teknologi infromasi. TI belum menjadi hal ‘perlu’ bagi masyarakat. Indikasinya bisa dilihat dari rendahnya angka partisipasi publik dalam penggunaan TI seperti internet, aplikasi perkantoran, email dan sejenisnya. Akses TI baru bisa sebatas dilakukan oleh kalangan menengah ke atas yang umumnya tinggal di daerah perkotaan.

Sebuah sumber menyatakan bahwa tingkat ‘melek’ TI masyarakat negara-negara berkembang kurang dari 10 persen dari total penduduk. Ini tentu berbeda jauh dengan negara-negara maju (AS, Eropa barat, Jepang, Korsel) yang tingkat pemahaman TI rakyatnya lebih dari 75 persen.

Bahkan, jika berbicara soal riset di bidang TI. Hampir tidak ada hasil-hasil riset bidang TI yang dihasilkan anak negeri. Lembaga riset yang menangani TI belum mampu menjawab tantangan akselerasi perkembangan ilmu di bidang TI yang berjalan sangat cepat. Ibaratnya, riset kita bak sepeda sementara riset negara lain melesat layaknya pesawat terbang. Memang benar di beberapa perguruan tinggi telah mulai tumbuh iklim untuk menjadikan kampusnya sebagai ‘digital campus’, tetapi itu belum layak untuk digunakan sebagai ukuran (standardization) terhadap perkembangan riset TI secara keseluruhan. Walaupun terkadang, jika kita berbicara untuk skala individu, sudah cukup banyak mahasiswa kita yang mampu menorehkan prestasi di bidang TI.

Beberapa waktu lalu misalnya, sejumlah mahasiswa asal Universitas Bina Nusantara (UBINUS) berhasil meraih juara pertama dalam ajang kompetisi Google Code Jam yang digelar di India dan berhasil mengalahkan peserta lain dari negara-negara yang dikenal memiliki tradisi riset yang sangat baik. Tetapi, keberhasilan mereka belum bisa dipakai sebagai tolak ukur tingkat kepahaman masyarakat pada umumnya, karena kesuksesan yang diraih lebih banyak disebabkan faktor pembinaan intensif dan tersedianya fasilitas memadai yang semuanya disediakan oleh kampus dimana mereka bersekolah.

Tentunya kita boleh berharap, agar nantinya Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya. Mungkin, kalau boleh sedikit bermimpi, suatu hari nanti akan terjadi sweeping di negara luar oleh perusahaan software lokal Indonesia karena pembajakan yang telah dilakukan oleh penduduk negara tersebut atas software buatannya.

(dari berbagai sumber)

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

1 thought on “SBY Vs Microsoft”

  1. Wah, Aneh juga ya. sebagai seorang mahasiswa UGM (UGM-er) bolehlah saya cemburu sama ITB. Btw, kenapa harus ITB ya, kok bukan kita-kita anak ilmu komputer UGM di Jogjakarta yang udah terkenal dengan kemampuan ‘hacking’-nya.

    Menurut saya ada baiknya kalau model-model pembuatan atau pengembangan pusat penelitian tersebut tidak hanya berbasis tempat yang sifatnya geografis (seperti meletakkan di satu tempat khusus), tapi harusnya lebih kepada pengembangan sebuah situs yang di dalamnya para user-nya bisa mengirimkan proyek mereka kepada Microsoft untuk di lihat dan dinilai langsung.

    Dengan model seperti ini, mungkin tidak akan ada lagi dikotomi geografis bagi para mahasiswa untuk menunjukkan kemampuannya kepada Microsoft. Lagian, kalau nggak dilirik sama Microsoft juga gpp sih. Kan masih banyak Vendor lain ….🙂

    Lucunya, kok ITB sudah berhasil menggaet SUN dan MIcrosoft, UGM kapan nih ….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s