Panggil Aku LAPiS


Ini adalah esai yang aku tulis untuk mengenang perjuangan TIM KKN Tematik UGM-BID Tahun 2006. Bravo Guys!

oleh: Wim Permana

LAPiS adalah kependekan dari Lightweight Adjustable Portable Information System. Seperti namanya, LAPiS memang merupakan sistem informasi (SI). Lebih tepat lagi kalau disebut dengan nama Sistem Informasi Pemantau Keadaan Pasca Bencana. Jadi, LAPiS ini sejatinya bukanlah SI biasa. Apalagi kue lapis! Namun jika perut Anda langsung mengasosiasikan kata LAPiS dengan kue lapis yang manis dan populer itu, maka Anda juga tidak salah dan tidak perlu malu. Mengapa? Karena salah satu harapan kami dengan nama LAPiS ini adalah agar karya kami ini gampang disebut, cepat populer dan dapat mengingatkan semua penggunanya dengan sesuatu yang berbau khas Indonesia nan baik citranya.

Tapi tunggu! Siapa kami di situ? Kami adalah Tim KKN Tematik UGM BID 2006. Selama dua bulan penuh, bahkan lebih, kami bekerja cerdas dan keras untuk membuat sistem ini dari dua tempat yang berbeda. Tim pertama, yang berjumlah enam mahasiswa, mengambil lokasi di salah satu ruang di dalam gedung perkantoran Badan Informasi Daerah (BID) di Jalan Brigdjen Katamso. Sementara tim kedua, yang terdiri dari lima mahasiswa, berbasis di Kompleks Kepatihan di Jalan Malioboro.

Ada sepuluh programmer plus seorang pendokumentasi yang mengerjakan LAPiS secara langsung. Kesebelas orang ini tergabung dalam divisi developer. Selebihnya tergabung ke dalam dua divisi lain, yaitu divisi pemeliharaan (maintenance) dan sosial-migrasi (SM). Divisi maintenance bertugas untuk mengurusi semua masalah yang berkaitan dengan aspek perangkat keras sistem. Sedangkan divisi SM bekerja untuk memublikasikan dan memasyarakatkan LAPiS ke seantero DIY.

Hasilnya? Terhitung sejak akhir Agustus hingga pertengahan November 2006 tim kami berhasil menuntaskan hampir semua target yang telah ditetapkan. Target-target tersebut antara lain; membuat inti (core) LAPiS, membuat modul-modul (plugins) yang akan dipasang (install) ke inti LAPiS, mendokumentasikan beberapa kode sumber modul dan petunjuk penggunaan (user-guide) penggunaan LAPiS, menerbitkannya (publish) ke internet di www.lapis.web.id, membuat workshop dan diskusi panel mengenai LAPiS untuk para Pegawai Pemda DIY, hingga meluncurkan (launching) LAPiS secara resmi di gedung aula BID pada tanggal 22 Agustus 2006. Acara peluncuran LAPiS ketika itu sempat dihadiri oleh beberapa pejabat teras BID Yogyakarta serta beberapa orang dari kalangan programmer yang bekerja di kantor-kantor pemda.

Tapi sayang sungguh sayang, mulai akhir November kemarin www.lapis.web.id sudah off-line. Artinya, situs ini, sekaligus LAPiS yang berada di dalamnya, sudah tidak dapat diakses dan dimanfaatkan lagi. Jawaban untuk kasus ini tentu berada di tangan BID sendiri selaku pihak berwenang yang memiliki otoritas terhadap server tempat di mana tim kami meng-host alamat tersebut. Sejauh ini, tim kami masih belum menerima klarifikasi dari pihak BID mengenai kasus ini. Tapi biarlah, bukankah LAPiS yang kami impikan itu sendiri sudah lahir ke dunia (baca: dunia maya). Inilah intinya!

Lahirnya LAPiS sebagai sebuah sistem informasi yang digunakan untuk memantau keadaan pasca bencana sendiri sebenarnya merupakan suatu kecelakaan (accidental). Sejatinya, tujuan utama proposal yang kami ajukan kepada BID adalah untuk membuat sebuah data center bagi wilayah DIY. Data center ini dapat digunakan untuk mengintegrasikan semua data dari berbagai instansi yang terdapat dalam wilayah provinsi Nantinya, integrasi data ini dapat memberikan manfaat positif bagi banyak pihak, tidak hanya bagi pemerintah daerah dan pegawainya, tapi juga untuk warga Yogyakarta itu sendiri.

Tapi naas, pada tanggal 27 Mei 2006, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter yang tidak diduga apalagi diharapkan justru datang. Sebagai respon atas bencana ini, akhirnya pihak BID memutuskan untuk mengubah rencana awal. Pembuatan data center yang sudah digagas sejak lama akhirnya diganti dengan proyek pembuatan sistem informasi pemantau keadaan paska bencana.

Setelah mengetahui keputusan BID ini, kontan saja, tim kami, yang sebagian besar anggotanya juga turut ‘menikmati goyangan maut’ beberapa detik tersebut, langsung mengiyakan keputusan mulia ini. Namun kemuliaan bukanlah satu-satunya faktor yang membuat kami mau untuk menerima pengalihan proyek KKN ini. Ada faktor lain yang waktu itu mencuat dalam sanubari kami; kesadaran intelektual!

Sebagai sebuah tim yang digawangi oleh mahasiswa ilmu komputer, kami sadar, secara intelektual, bahwa masih ada sesuatu yang ‘kurang’ dari apa-apa yang sudah diberikan oleh media massa, baik cetak maupun elektronik, kepada masyarakat mengenai Gempa 27 Mei. Kekurangan yang kami maksudkan di sini adalah pada ketidakmampuan kedua jenis media untuk memberikan informasi secara up-to-date sekaligus yang bersifat interaktif bagi para pemburu informasi tentang korban gempa. Kekurangan ini sebenarnya bersifat alamiah dan wajar. Semua media massa, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Selain faktor di atas, faktor lain yang ‘mengganggu’ adalah bahwa kedua media tersebut juga masih sangat bergantung dengan jadwal penyiaran/penerbitan yang harus selalu teratur dan ditentukan waktunya. Lain halnya dengan konsumen (baca: pemirsa, pendengar, dan pembaca), mereka justru menghendaki informasi yang akurat, cepat, mudah dan dapat diakses kapan saja. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan nyawa sanak keluarga yang berada dalam lingkungan bencana.

Dalam keadaan seperti inilah, tim kami melihat bahwa internet, dengan protokol HTTP1-nya, dapat menjadi media pembawa berkah bagi pencari informasi. Sebagai media, internet bersifat global. Artinya, pencari berita tidak akan terkekang oleh posisi geografis tempat tinggalnya. Asalkan bisa terhubung ke internet, maka ia hampir dapat dipastikan juga bisa mengakses dan memanfaatkan layanan LAPiS.

Selain terlepas dari penjara jarak, internet juga membuka kesempatan untuk layanan yang bersifat cross-platform. Dengan sifat ini, pengguna tidak perlu mempermasalahkan platform sistem operasi yang dipakainya. Semua komputer, apapun sistem operasinya, baik itu Microsoft Windows, Macintosh, Unix, Solaris, atau GNU/Linux dengan banyak variannya2, semua dapat menggunakan layanan ini. Maklum, semua browser3 yang digunakan di dalam semua sistem operasi yang disebutkan di atas, mampu berkomunikasi dengan protokol HTTP.

Di samping global, internet juga bersifat terus aktif (on-line) selama 24 jam setiap hari setiap minggu. Ini sama saja dengan stasiun radio atau stasiun TV yang non-stop siaran dan atau seperti koran atau majalah yang non-stop terbit. Secara teori sekaligus praktik di lapangan, jelas ini tidak mungkin. TV atau radio yang non-stop siaran memang sudah biasa, bahkan banyak, tapi kalau selama 24 jam selama seminggu isinya hanyalah berita untuk melayani para pencari informasi bencana, ini yang tampaknya tidak mungkin.

Dan untung bagi kami, untuk urusan infrastruktur internet, DIY adalah salah satu provinsi di Indonesia yang jaringan internetnya paling baik dan mumpuni. Akan lebih bijaksana kalau sekali lagi kami tambahkan; untuk ukuran Indonesia lho.

Klop sudah! Tiga alasan di atas menjadi pengobar semangat kami untuk meng-online-kan sistem ini. Sebuah sistem yang berjalan di atas sebuah media bernama internet. Para pemburu informasi (baca: yang ingin memeriksa keadaan sanak keluarganya) kami persilahkan untuk mengaksesnya dari mana saja, kapan saja.

Sebagai ilustrasi, untuk mencari sanak keluarga yang terkena bencana gempa, pengguna cukup memasukkan nama orang yang dicarinya dalam sebuah kotak isian lalu tekan tombol cari. Jika nama orang yang dicari berada dalam database LAPiS maka LAPiS akan menampilkan halaman yang berisi data orang tersebut. Namun jika tidak, maka LAPiS akan menampilkan halaman pemberitahuan yang memberi tahu pengguna bahwa nama orang yang dicari tidak berada dalam database. Sederhana sekali. Itulah teknologi!

Tim kami menyediakan semua data, informasi, dan fitur yang berada di dalam LAPiS secara gratis. Pengguna hanya perlu mengikhlaskan uang untuk membayar biaya akses internetnya. Tidak ada lagi biaya tambahan. Hebat bukan?

Satu hal lain yang juga patut dibanggakan oleh pengguna dari LAPiS adalah kandungan informasinya. Semua informasi yang ada di dalam www.lapis.web.id merupakan informasi resmi yang kami ambil langsung dari lembaga-lembaga yang sudah diakui oleh masyarakat. Diantaranya adalah PMI (Palang Merah Indonesia) cabang DIY dan situs milik Departemen Pendidikan Nasional. Jadi, para pengguna LAPiS tidak perlu lagi mempertanyakan kemurnian/validitas data yang dibaca dan atau diambilnya dari LAPiS.

Itu tadi dari segi kandungan informasi. Bagaimana dengan unsur-unsur teknis (software) yang membangun LAPiS itu sendiri? Untuk membuat, mewujudkan dan menghidupkan LAPiS, tim kami menggunakan tool pendukung dan teknologi yang terbaik yang bisa kami dapatkan dan gunakan ketika itu. Sebut saja nama-nama seperti CakePHP, MySQL 5.0, FIST, AJAX, dst.

Agar tidak membuat Anda sakit hati dan iri di ujung cerita. Kami juga berhak untuk membeberkan dengan rendah hati kepada seluruh civitas akademika UGM bahwa semua tool yang kami manfaatkan di sini adalah tool yang bersifat open source dan gratis (baca: Rp. 0,00 kalau menurut Ejaan UM-UGM yang kondang itu). Jadi, tidak ada sepeser pun rupiah yang dialokasikan untuk pengadaan semua tool ini. Sesuai dengan pepatah lama; Hemat Pangkal Kaya. Sebagai gambaran untuk Anda, berikut kami sajikan deskripsi singkat mengenai software dan teknologi yang kami pakai di atas.

Tool pertama, CakePHP. Kami memilihnya karena ia merupakan salah satu framework pengembangan aplikasi web berbasis PHP yang populer dan sudah banyak diakui oleh developer di seluruh dunia. Alasan lainnya adalah karena tool ini mendukung konsep pengembangan MVC (Model-View-Control). Dengan MVC, pengembangan data layer, logic layer, dan presentation layer dapat dilakukan secara terpisah. Dua tim kami yang bekerja secara terpisah sudah membuktikan keampuhannya.

Kedua, MySQL 5.0. Kami menggunakannya sebagai DBMS (Database Management System) untuk menyimpan data yang sudah terkumpul. Selain karena sudah populer dan sering dipakai oleh semua anggota divisi developer, DBMS ini juga kami pakai karena ia terkenal tangguh jika disandingkan dengan bahasa server-side-scripting yang kami pilih, yakni PHP.

FIST (Flexible Internet Spatial Template) kami gunakan sebagai aplikasi untuk mengimplementasikan GIS (Geographic Information System) atau Web Mapping. Di dalam LAPiS, peta yang ditampilkan adalah Peta Provinsi DIY. Penggunaan peta digital di dalam situs web memang sangat intuitif dan menimbulkan kesan canggih sekaligus modern. Namun sayang, tampaknya infrastruktur jaringan internet sebagus yang dimiliki oleh Provinsi DIY pun ternyata belum siap untuk menikmati teknologi ini dengan hasil optimal. Alhasil, loading sebuah halaman situs yang menggunakan fitur ini akan menjadi sangat lambat.

Tapi pengguna tidak perlu khawatir. Masalah ini sendiri sebenarnya sudah diantisipasi oleh kami dengan cara memisahkan halaman berfitur GIS dengan halaman fitur-fitur lainnya. Jadi, pengguna yang mempunyai koneksi internet dengan bandwith tinggi tidak perlu takut untuk menikmati fitur GIS. Sementara untuk pengguna yang ber-bandwith rendah, jangan coba-coba, kecuali kalau pengguna itu adalah pengguna yang termasuk ‘Sang Penanti Setia’.

Empat, AJAX. AJAX merupakan kependekan dari Asynchronous JavaScript And XML. AJAX sendiri bukanlah sebuah software. Ia hanyalah sebuah fungsi/manfaat yang dapat kita dapatkan dengan menggabungkan kemampuan JavaScript4 dan XML5. Salah satu fungsi AJAX dalam LAPiS adalah untuk menghemat bandwith internet pengguna. Dengan penghematan ini, pengguna jadi tidak perlu menghabiskan waktu yang relatif lama untuk menampilkan sebuah halaman situs.
Gabungan tool dan teknologi di atas telah menyumbang banyak hal dalam pembuatan LAPiS. Tanpa tool atau teknologi tersebut, mungkin agak mustahil bagi tim kami untuk menyelesaikan proyek LAPiS ini dalam tempo yang kurang dari tiga bulan.

Di atas semua keunggulan, kehebatan atau kecanggihan, LAPiS hanyalah sebuah alat. Tidak lebih! Dan sebagaimana lazimnya suatu alat, LAPiS juga tidak luput dari kekurangan. Dan ironisnya, sesuatu yang menjadi keutamaan ternyata juga dapat menjadi kelemahan untuk LAPiS itu sendiri. Contohnya, fakta bahwa LAPiS menggunakan medium internet tentu akan membuat karya kami ini agak dijauhi oleh masyarakat yang belum tersentuh internet itu sendiri. Meski mereka sebenarnya sangat membutuhkan sesuatu yang bekerja dan berfungsi seperti LAPiS.

Fakta ‘berat’ berikutnya adalah bahwa proyek ini sebenarnya hanyalah sebuah proyek KKN yang bernilai tiga sks, bukan murni proyek pemerintah. Jadi, mungkin kami tidak boleh bermimpi terlalu tinggi untuk mengharapkan kebaikan Pemda DIY untuk membiayai jalan-hidup LAPiS. Maklum, untuk menghidupi sebuah sistem informasi yang ‘disuntikkan’ ke dalam sebuah situs di internet, kita membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengurusnya sekaligus sumber dana yang kuat di belakangnya. Tanpa keduanya, sistem laiknya LAPiS tentu akan karam. Dan sekarang hampir terbukti bukan?

Tapi biarlah, apa yang sudah terjadi dan berlalu biarkanlah benar-benar berlalu. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua di suatu hari nanti. Agar semangat tetap menyala, simaklah sebuah ungkapan dari John F. Kennedy yang masyhur itu;
Jangan tanya pada diri Anda apa yang telah negara ini berikan kepada Anda, tapi tanyalah pada diri Anda sendiri apa yang bisa Anda berikan untuk negara ini.

Bagaimana teman-teman? Tampaknya kita memang tidak boleh terlalu bersedih bukan?

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

2 thoughts on “Panggil Aku LAPiS”

    1. wah setuju banget maz. cuma ada problem teknis nih. source code LAPiZ yang pernah kusimpan di CD or DVD ternyata sudah tidak bisa dibuka lagi di CDR… ada solusi tidak nih?

      saya juga jadi gak enak kalau sampai source code nya hilang tidak berbekas. padahal itu adalah kerja keras kita semua pas KKN .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s