Fenomena FPI di seputar blog-blog yang ada di WordPress.com


fpi

FPI sedang beraksi. Ini sebenarnya benar atau salah atau ada opsi ketiga mungkin?

Membincangkan masalah benar atau salahnya FPI sungguh sangat menarik. Tapi sayang, ini bukan wilayah saya. Saya adalah seorang mahasiswa ilmu komputer, bulan Mei kemarin kebetulan saya baru saja lulus dengan IPK yang tidak terlalu tinggi. Alhamdulillah (tapi penting nggak sih). Ya nggak lah🙂

Lalu apa yang bisa saya kaji dari masalah ini. Sebenarnya banyak, tapi di sini saya akan membatasi diri pada fenomena media massa saja, khususnya yang berbasis web, yakni blog dalam memberitakan dan mengadu opini seputar kasus ini. Bahan-bahan yang saya ambil adalah tulisan-tulisan (posts) yang terserak di situs WordPress.com. Kenapa WordPress.com dan bukan yang lain? Karena halaman Top Post yang ada di WordPress.com versi Bahasa Indonesia akan memudahkan saya untuk menemukan topik yang paling hangat di kalangan blogger Indonesia saat ini.

Selamat menyimak …

Petunjuk singkat:

nanti di ujung post saya ini anda akan bisa menebak kenapa sampai seorang anak ilmu komputer seperti saya dan dua teman saya tertarik dengan isu-isu panas seperti ini.

Blog-blog itu …

Seperti biasa, para blogger yang menulis isu-isu terkait dengan FPI sebenarnya tidak banyak, kecuali sesudah terjadinya peristiwa Monas minggu, 1 Juni kemarin. Dari halaman 100 post terpopuler WordPress Indonesia, tercatat sekitar puluhan blog yang mengangkat isu ini.

Catat bahwa saya tidak ingin meringkas isi puluhan blog tersebut terkait dengan kasus FPI ini. Karena ini bukanlah sesuatu yang ingn saya tunjukkan. Apa yang ingin saya kedepankan justru pada “posisi blog-blog itu terkait dengan status mereka selaku sebuah media baru“.

Usut di usut, saya ingin membagi blog-blog yang memuat isu tentang FPI tersebut ke dalam beberapa kategori. Antara lain sebagai berikut:

1. Sebagai penyebar berita tok!

Apa yang saya maksud dengan penyebar berita di sini adalah post di blog yang tujuannya hanya untuk menyebarkan atau mengumandangkan apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini, si penulis menerbitkan berita, bisa itu tulisan sendiri atau hanya berupa salinan dari situs atau blog lain, tanpa memasukkan unsur-unsur opini atau tendensi pribadi di dalamnya.

Hasilnya? Tidak ada! (Kalau ada beri tahu ya)

Catatan:

Saya sudah menelusuri beberapa blog yang menggunakan judul tulisan yang sifatnya terkesan informatif tapi hasilnya tetap nihil. Ketika saya mengunjungi blog-blog itu lalu membaca satu per satu tulisannya, saya berpendapat bahwa umumnya para blogger tidak pernah sedikit pun melepaskan tulisan mereka dari opini mereka sendiri. Pun kalau ada sesuatu yang sifatya informasi, itu hanyalah link-link yang menuju ke situs media-media besar seperti Kompas atau detik.

2. Sebagai penyebar berita sekaligus pembangun opini

Dari namanya anda sudah paham bahwa di dalam tulisan atau blog yang kami cantumkan ini, informasi yang ditampilkan berfungsi untuk mendukung opini si empunya blog.

Maula – Masyarakat Universal Lintas Agama dengan post berjudul “Sejarah kekerasan FPI (2001 – 2008)“.

Melihat judulnya saja kita akan tahu apa yang diungkit dalam tulisan ini. Didalamnya berisi semacam milestone “kejahatan” yang sudah dilakukan oleh FPI. Mulai dari sweeping kafe sampai ke bentrok dengan pendukung ormas lain atau bahkan dengan TNI Polri itu sendiri. Lengkap dengan sumber dari beberapa media online populer seperti Detik dan Sinar Harapan.

Komentar saya: ingin mengingatkan saja, dulu waktu pasca bencana Tsunami di Aceh, FPI termasuk ormas yang paling lama bertahan di sana. Kok tidak masuk dalam data ya? Ya jelas lah … namanya juga sejarah kekerasan. hei bung, ini blogku, wilayah kekuaasaanku.

Usul: kalau bisa si penulis lansung memberikan atau menempatkan link ke sumber yang diambil per uraian. Jangan cuma di bawah saja. Terkesan kurang serius. Tapi untuk daftar sepanjang itu. Usaha si penulis sudah layak dibilang bagus dan patut acungan jempol.

Catatan:

Ters terang saya cukup kesulitan menelusuri blog-blog yangmirip seperti ini. Jika anda tahu lebih, mohon beritahu saya melalui komentar anda atau langsung saja masukkan ke dalam liga terkait FPI yang ada di situs Blog League. (Anda harus mendaftar dulu sebagai user).

3. Sebagai wadah ekspresi atau opini si penulis

Ini adalah kategori di mana para blogger banyak terkumpul. Blog-blog yang saya masukkan ke sini lebih cenderung untuk menyajikan opini atau analisis mereka sendiri kepada pembacanya.

Berikut blog-blog yang saya maksud:

a) Daeng limpo Si Pembawa Kabar dengan post berjudul “Beberapa saran untuk FPI (Front Pembela Islam)“.

Tulisan Daeng murni opini. Beliau menawarkan enam poin yang bagus untuk dibaca oleh orang non-FPI, tapi saya rasa tidak demikian kiranya jika dibaca dengan orang-orang FPI sendiri. Salah dua dari keenam opini yang menarik adalah sebagai berikut:

“Buatlah FPI ini seperti Muhammadiyah atau NU, yang lebih mengedepankan aspek sosial kemasyarakatan dalam menjalankan organisasinya. Kirim anggota FPI untuk berdakwah dalam rangka memperteguh akidah umat Islam yang ada, lakukan bakti sosial seperti donor darah, kerja bakti.”

“Jangan mau dijadikan “bumper” untuk pengalih perhatian dari masalah BBM atau masalah lain yang sedang membelit penguasa. Kalau dapat jadilah pelopor untuk membangun masyarakat muslim Indonesia yang sejahtera.”

b) O. Solihin – katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit dengan post yang berjudul “‘Penyerangan’ FPI Vs ‘Provokasi’ AKKBB

Dalam tulisan yang apik nan panjang ini, O. Solihin mencoba untuk menunjukkan bahwa FPI tidaklah sejelek apa yang sudah ditudingkan oleh banyak orang seperti sekarang ini. Ada tujuh poin panjang dalam tulisan ini. Yang membuat saya tertarik adalah pada pon ke empat. Simak dulu kutipan berikut ini:

“Setidaknya ini (baca: kemungkinan adanya strategi intelijen yang anti dengan FPI atau Islam) saya dapatkan dari sebuah makalah presentasi yang ‘lolos’ ke tangan saya tentang aktivitas intelijen. Apalagi gerakan seperti FPI kelihatannya sangat mudah untuk ‘disusupi” dan “dipanas-panasi”.”

Hmmm, pendapat ini sebenarnya menarik, media-media besar Indonesia seperti tempo atau Kompas pasti bernafsu untuk melihat dan memeriksanya. Tapi tentu saja, mana buktinya? Bukta bahwa makalah itu benar-benar seperti yang diungkap tadi. Bukankah di era MS PowerPoint seperti ini membuat dan mengedit makalah menjadi teramat mudah.

c) Suluh numpang nulis – … Cuma lagi pengen nulis dengan tulsain yang berjudul “Saya FPI!! Ayo Siapa Yang Berani!! Maju Sini!!

Ini adalah opini si penulis terkait isu FPI yang menggunakan puisi sebagai bentuk satire terhadap keberadan juga aksi FPI.

Dari segi isi saya kira si penulis sudah terbilang bagus. Artinya, orang-orang FPI atau para simpatisannya tentu akan merasa tersindir dengan puisi semacam ini. Lalu bagaimana dengan aspek seninya? Hmmm, silahkan menilai sendiri. Tenang, si penulis sudah membuka fitur komentar, jadi para pembaca tidak usah ragu-ragu dalam menyikapi puisi ini.

d) Berbagi Cerita.. – be a better man, for a better destination dengan post yang berjudul “Insiden Monas: Pemerintah Harus Bertanggung Jawab

Tulisan ini sungguh menarik, alih-alih ikut mengomentari soal FPI dan AKKBB, si penulis justru menyasar ke Pemerintah dan TNI Polri selaku pihak yang dianggapnya kurang tegas dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyah yang dianggapnya sebagai akar masalah kasus ini.

Di akhir tulisan, si penulis memberikan kesimpulan yang menurut saya tidak terlalu elegan:

Kita lihat, seberapa cerdas Pemerintah kita memandang permasalahan ini. Kalau kemudian sama seperti POLRI yang mengalihkan penyerangan kepada para mahasiswa di UNAS lalu dengan kasus Narkoba, atau beberapa contoh yang saya paparkan di atas. Berarti benar: Sudah saatnya SBY-JK diturunkan.

Komentar saya:

Soal POLRI, UNAS dan Narkoba, ini masih belum jelas terungkap. Ada kemungkinan bahwa narkoba itu memang benar milik mahasiswa atau justru milik POLRI sendiri. Nah, karena ini masih polemik harusnya si penulis tidak gegabah meletakkan sesuatu yang seperti ini di tulisannya. Jadi kotor deh kredibilitas anda.

Terkait penurunan SBY-JK adalah isu yang lebih penting lagi. Hemat saya, jika kita mau belajar dari pengalaman Indonesia yang sudah-sudah, saya pikir akan sangat lucu kalau kita selalu berkesimpulan bahwa masalah negara ini akan selesai dengan sendirinya manakala pemimpinnya diganti.

e) Bumi Prabu – Berbagi untuk menikmati hidup dengan post yang berjudul “FPI vs Gus Dur

Tulisan di blog ini lebih melihat kepada masalah perpecahan umat islam di Indonesia. Khususnya antara para pendukung NU dan FPI. Si penulis sungguh sedih atas apa yang sudah terjadi, tidak hanya atas kejadian 1 Juni kemarin tapi beliau juga mengungkit kembali istilah “Devide et empera” penjajah kolonial.

Si penulis hanya bersedih karena “Umat Islam di Indonesia selalu jadi ajang untuk di pecah belah“. Ia bingung dengan tanya “Kita mau ikut siapa?, Kita mau dibawa kemana?“. Terakhir, dia khawatir kalau bangsa ini sebenarnya sedang dipecah belah oleh oknum yang antah berantah.

f) Mahmudin – Belajar jadi manusia ” dengan tulisan yang berjudul “Bubarkan FPI..???

Inti dari tulisan ini jelas sekali, si penulis menghimbau dan menggiring pembacanya untuk beropini bahwa sebenarnya FPI itu tidak perlu dibubarkan karena yang salah bukanlah organisasinya, melainkan cara dakwah atau aksi mereka.

Hal lain yang cukup menarik dari tulisan ini adalah adanya penganalogian yang dibuat oleh penulis dengan meletakkan FPI sebagai ormas yang mirip dengan apa yang sudah ada di Bone. Sebuah ormas yang positif, yang kehadirannya bisa menurunkan bahkan melenyapkan tingkat kejahatan di daerah itu. Wow …. yang tidak ada datanya.

g) Artikel Islami – Blog Pembela Ahlus Sunah dengan post berjudul “CSIS versus FPI

Si penulis sepertinya hanya menjadikan postnya sebagai “kepanjangan tangan” dari post yang ada di blog “Membela sunah memberantas bid’ah”. Inti opini mereka adalah bahwa dalang dari semua dalang (maha dalang) dari kerusuhan 1 Juni kemarin adalah lembaga terkenal dengan sebutan, CSIS atau Center for Strategic and International Studies.

Sejumlah nama tokoh populer disebut-sebut dengan lantang di sini. Di antaranya; Azyumardi Azra, Frans Magnis Suseno, dan Dawam Rahardjo yang konon merupakan aktor di balik beberapa kisah kelam bangsa ini.

Lalu apa yang salah? Mana buktinya bung? Kutipan berikut jelas belum layak untuk dijadikan sebagai bukti otentik:

“Siapa mereka ini? Siapa saja anggotanya? Diantara anggota-anggota mereka yang sering muncul ke permukaan adalah mereka-mereka yang sering membela kelompok sesat dan para pelaku ma’siat. Mereka adalah para pembela pelaku goyang erotis. Itulah mereka yang muncul ke permukaan. Anda sering melihat Ulil Abshor didampingi oleh Frans Magnis Suseno dan Azyumardi Azra, serta Dawam Rahardjo. Apakah mereka dari kalangan Kristen, NU, dan Muhammadiyah? Agak diragukan. Anda ingat Gus Dur yang sering membela Inul dan para pegoyang erotis? Gus Dur, ketika menjabat sebagai Presiden, telah mencabut Kepres yang dikeluarkan oleh Ir. Soekarno berkenaan pelarangan AMORC dan organisasi Masonic lainnya. Itulah salah satu kontrak antara Gus Dur dan kelompok ini. Mereka adalah CSIS.”

Sebenarnya masih ada banyak tulisan, tapi tujuh saja sementara seharusnya cukup. Tulisan-tulisan lain yang sekiranya mengangkat isu-isu tentang FPI bisa dimasukkan sendiri di dalam liga “Kasus FPI (Front Pembela Islam) di Indonesia” yang sudah dibuat di situs Blog League.

Catatan:

Oh ya, Blog League adalah situs baru yang masih dalam tahap beta. Meskipun demikian, calon pengguna sudah bisa menggunakannya dengan memasukkan email plus blog mereka sebagai alat agar bisa mendaftar di dalamnya.

Kalau sudah bisa masuk, nanti pengguna bisa memasukkan tulsian-tulisan yang menurutnya layak masuk ke dalam liga yang diinginkannya. Tujuannya jelas; memudahkan para pengunjung untuk melihat tingkat popularitas suatu topik sekaligus menilik post-post apa yang banyak didukung di sana. Namanya juga liga, di sini user bisa memberi penilaian (vote) kepada tulisan yang dianggapnya “lebih” dibanding tulisan yang lain. Lalu apa untungnya buat para kontestan yang tulisannya masuk ke dalam liga? Sederhana saja; anda akan dapat banyak teman sekaligus traffic. Iya nggak? Sesuai dengan tagline situs ini: where leagues means friendships and traffic.

Image Courtesy of Flickr

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

15 thoughts on “Fenomena FPI di seputar blog-blog yang ada di WordPress.com”

  1. >> 1. Sebagai penyebar berita tok!
    >> …
    >> Hasilnya? Tidak ada! (Kalau ada beri tahu ya)

    He? Kenapa memandangnya serendah itu? Menurutku, penyebar berita “tok” adalah salah satu mekanisme vital dalam… ya penyebaran berita! Tau model-model slashdot dan osnews.com kan (aku nggak mempermasalahkan apa mereka “blog” atau bukan)? Nilhasilkah?

    Anyway, aku udah daftar tu beta dari zaman kapan tapi kok nggak ada apa-apa yang masuk ke inboxku ya? *terus menunggu*

  2. Buat Agro, terima kasih sudah berkomentar di sini, Agro sepertinya kurang menangkap apa yang saya maksud dengan kategori “sebagai penyebar berita tok”.

    Aku memang mendapati bahwa sepertinya tidak ada tulisan-tulisan dalam blog yang sengaja dibuat khusus untuk menginformasikan berita saja. Setidaknya setelah saya usut selama dua hari ini. Maka dari itu, kalau ada blogger yang merasa menulis post yang sifatnya hanya sebagai informasi saja, tolong aku diberi tahu.

    Oh ya, di dalam analisis ini saya hanya menelusuri blog-blog yang ada di wordpress.com. Jadi, meskipun di luar sana masih banyak situs-situs yang memuat isu tentang FPI seperti detik.com dan kompas.com aku tidak memasukkan keduanya. Termasuk juga di sini kalau mungkin ada blogger di blogspot yang menulisakannya.

    Oh ya, soal private beta akan segera saya beritahukan kepada Fuad. Dia yang mengurus hal ini.

  3. “Soal POLRI, UNAS dan Narkoba, ini masih belum jelas terungkap. Ada kemungkinan bahwa narkoba itu memang benar milik mahasiswa atau justru milik POLRI sendiri. Nah, karena ini masih polemik harusnya si penulis tidak gegabah meletakkan sesuatu yang seperti ini di tulisannya. Jadi kotor deh kredibilitas anda.

    Terkait penurunan SBY-JK adalah isu yang lebih penting lagi. Hemat saya, jika kita mau belajar dari pengalaman Indonesia yang sudah-sudah, saya pikir akan sangat lucu kalau kita selalu berkesimpulan bahwa masalah negara ini akan selesai dengan sendirinya manakala pemimpinnya diganti.”

    Halo Mas Wim,
    Terima kasih atas aspresiasi saudara menanggapi tulisan saya. Jarang sekali blogger WP yang mau menimpali pandangan blogger lainnya secara utuh dan berwibawa macam saudara. Terkadang hanya menyalin atau mengkritisi sebagian, atau malah hanya sekedar “pengumuman” BOTD WP.

    Menanggapi paragraf pertama komentar saudara tt tulisan saya, PENGALIHAN ISU yang jadi masalah bukan sudah terungkap atau belum (update: 3 mahasiswa yg diduga terlibat narkoba dan saat ini ditahan mahasiswa UNAS lainnya sudah dibebaskan sejak senin dini hari). Insya Allah saya mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis. Silakan baca disclaimer di blog saya, jika saudara ragu kredibilitas saya tak masalah. Saya tetap berusaha mengatakan HITAM adalah HITAM dan PUTIH adalah PUTIH, dengan pemahaman keilmuan, proses pembelajaran/pengalaman juga keyakinan saya.

    Menanggapi paragraf kedua, memang akan “sangat lucu” jika kita sekedar mengganti pemimpin saja. Malahan saya sedikit khawatir jika hanya SBY yang turun kemudian dilanjutkan JK, haduh. Tambahan lagi, akan menjadi sejarah baru “presiden pilhan rakyat” diturunkan rakyatnya. Tapi kemudian, mereka adalah simbol pemerintahan negeri ini. Sehingga bagaimanapun akan menjadi “lebih lucu” lagi jika kesalahan akibat kepemimpinan mereka harus ditanggung rakyat. Bisa berupa Insiden Monas, maupun pemukulan mahasiswa oleh aparat POLRI.

    Ini masalah tanggung jawab, kawan. Bukan yang lain. Tanpa mengurangi hormat saya pada saudara.

    SalamHangat.
    Zenk di Belanda

  4. @Wim

    Ah, setelah membaca balasan Wim-san, dan membaca lagi bagian postingan ini yang relevan, semuanya menjadi masuk akal.🙂

    Ya, kalau gitu saya voidkan komentar saya sebelumnya karena apa yang saya pikir Wim-san maksudkan ternyata bukan begitu kenyataanya. Maafkan kekhilafan kali ini.

  5. @ Agro, you can call me wimkhan, not Wim-san, I’m not hoping myself to become a japanese like you🙂 however thank you for your attention and consciousness here.

    Oh ya Gro, soal private beta nih. Sih kata fuad masih ada error dari sis server nya. Nanti di perbaiki dulu.

  6. FPI menurut watashiwa menjadi kambing hitam oleh pemerintah dalam mengalihkan masalah yang lebih besar yang dihadapi rakyat Indonesia yaitu kenaikan BBM.
    Dalam hal ini media massa memang menjadi aktor utama dalam hal ini. Betapa tidak berita tentang FPI selalu dikaitkan dengan kekerasan padahal ketika melakukan aksinya FPI selalu mengikuti prosedur polisi.
    Terus kenapa polisi dalam hal ini membiarkan 2 kelompok yang berbeda pemikiran dan prinsip bisa bertemu di dalam tempat yang menjadi simbol negara yaitu di Monas.
    Padahal sebelum aksinya FPI sudah meminta izin ke polisi, aneh? Sepertinya ini politik manajemen konflik untuk menutupi kenaikan BBM.
    Salam kenal dari padhepokananime

  7. Kamu bisa masukin email dan blogmu melalui link berikut ini:

    http://blogleagues.com/users/betaregister

    Tapi khusus untuk kamu Ziz yang sudah mau berkomentar, Aku dan Fuad sudah meng-invitemu lewat email di Yahoo.com. Tapi ingat, biasaanya email ini masuk ke dalam folder Spam atau Bulk. Jadi jangan lupa di ceheck ulang.

    Kalau mau cari emailnya, masukkan kata “blog league”.

    Thanks ya …

  8. lho aku malah mikir sebaliknya. cara fpi ini “bagus” sekali. cerdik. dengan melakukan penyerangan pada saat harga bbm masih menjadi pembicaraan hangat maka tindakan mereka menjadi bias. seakan-akan digerakkan oleh provokator (ato pemerintah) untuk mengalihkan perhatian dari issue bbm.
    jika saya menjadi fpi, jelas moment ini sangat tepat.
    mungkin lebih dulu bisa dipelajari uraian bung maula (sejarah kekerasan fpi) dan diliat pada moment apa mereka biasa melakukannya.

  9. Wow, analisis yang keren. Tapi agak aneh juga kalau FPI mau-maunya bertindak “sebesar” itu hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat Indonesia dari masalah BBM.

    Lagipula, akibat dari peristiwa kemarin sangat besar. Lembaga mereka tercoreng, angggota mereka ditangkapi, bahkan beberapa cabang mereka dipaksa untuk dibubarkan oleh Bansernya PKB-Gusdur.

    Soal usul untuk mempelajari uraian bung maula saya terima dengan senang hati. Soalnyaini ide brilian. tapi tetap, saya kan menjaga objektivitas dalam hal ini.

  10. TIRANI BERDASAR ATAS KETUHANAN YANG MAHA ESA
    Sekali lagi terjadi suatu peristiwa yang membuat mata dunia internasional berpaling ke bumi pertiwi. Bukan karena tim sepak bola kita masuk ke piala eropa, bukan pula karena prestasi kita di bidang teknologi dan informasi, akan tetapi sebuah konflik (atau lebih tepatnya PENYERANGAN SEPIHAK)horisontal yang membuat kita (paling tidak yang masih memiliki hati nurani) lagi-lagi terenyuh!!! Sebuah tindak KEKERASAN mengatas namakan “tuhan” (sengaja saya tulis dengan huruf kecil” dengan alasan membela AKIDAH yang ternodai.
    Proses hukum sedang bergulir sebagai bentuk lanjutan dari peristiwa ini yang ternyata mengakibatkan banyak korban luka-luka di salah satu pihak. Habib Rizieq dan Munarman, dua tokoh yang paling tidak selama seminggu setelah kejadian menjadi “selebriti” (bahkan mengalahkan bintang sinetron) telah ditangkap dan didakwa dalam beberapa pasal KUHP. Pro-kontra terus berlangsung menanggapi akhir dari proses penyelesaian hukum ini. Ada fenomena menarik manakala muncul begitu derasnya penolakan terhadap ahmadiyah yang dianggap sebagai akar permasalahan dari munculnya insiden monas tersebut. slogan pluralisme, bhinneka tunggal ika, ataupun keragaman seolah-olah runtuh begitu saja melihat begitu solidnya mereka dalam menyetujui pembubaran ahmadiyah ini.
    Seperti kita ketahui bahwasepanjang tahun 2007, para penganut ahmadiyah menjadi sasaran kekerasan dimana-mana:masjid mereka dibakar, jiwa mereka diancam, pemukiman yang dihancurkan sampai dengan larangan untuk mengikuti hari raya. Ada satu pembenaran yang dijadikan tameng oleh para penyerang ahmadiyah ini:FATWA MUI yang menyatakan bahwa ajaran ahmadiyah sesat!!! pada tahun 2005 MUi mengeluarkan fatwa yang bukan saja menyatakan bahwa ahmadiyah sesat akan tetapi juga meminta pemerintah menutup organisasi tersebut. Disusul kemudian melalui fatwa pada oktober 2007 yang mengenai aliran sesat, yang juga membawa nama ahmadiyah dalam penjelasan.
    MUI kemudian menyalahkan pemerintah atas terjadinya konflik-konflik horisontal yang terjadi dengan alasan ketidaktegasan pemerintah dalam menyikapi permintaan MUI. Ada dua pilihan (lebih tepatnya Ultimatum) yang diberikan oleh MUI: bertobat dan kembali ke islam sesungguhnya atau keluar dari agama islam dan mendirikan agama sendiri. bentuk ultimatum yang mengiatkan kita kembali dengan apa yang telah terjadi pada gereja katolik pada masa abad kegelapan. Menjadi pertanyaan kemudian;ajaran seperti apa yang telah diamalkan oleh ahmadiyah sehingga harus dianggap sebagai bid’ah yang harus dilarang keberadaannya…
    Para ppengikut ahmadiyah memang diketahui memandang lebih sosok Mirza Guhlam Ahmad sebagai orang yang memperoleh wahyu Allah untuk meneruskan ajaran Nabi Muhammad. Suatu kepercayaan yang memang kebanyakan umat islam lainnya tidak imani. akan tetapi diluar itu harus diakui juga bahwa mereka percaya Allah itu satu, bahwa Alquran itu adalah kitab suci umat islam, bahwa ada malaikat, bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir, bahwa ada hari akhir dan takdir. Selain itu mereka juga melakukan syahadat, bershalat dengan kiblat Ka’bah, berzakat, dan membantu kaum miskin, bahkan naik haji.
    Ahmadiyah sendiri sudah berdiri di Indonesia semenjak tahun 1925 dan telah berbadan hukum melalui ketetapan Menteri Kehakiman semenjak tahun 1953. Selama kurun waktu itu sampai dengan sekarang, ahmadiyah selalu dikenal taat hukum. dalam setiap kegiatannya, Ahmadiyah tidak pernah terlibat dalam aksi kekerasahn atau meresahkan warga seiman ataupun penganut kepercayaan yang lain (berbeda dengan apa yang telah ditunjukkan oleh ORMAS-ORMAS tertentu yang sudah tidak perlu lagi disebut secara spesifik namanya). Walaupun kabarnya mereka hidup secara eksklusif di beberapa daerah, akan tetapi tetap dalam konteks damai dan bersahabat dengan masyarakat luas.
    Dalam kaitannya dengan ultimatum yang diberikan oleh MUI, apakah sesederhana itu saja menyuruh (atau memaksa) orang untk berganti nama agama yang dianutnya???apakah ini bukan berarti bahwa MUI menganjurkan jutaan umat ahmadiyah menjadi murtad???apakah ini berarti bahwa sekitar seratus lima puluh juta umat ahmadiyah yang tersebar di seluruh dunia berarti salah dalam mengimani ajarannya???apakah MUI dapat mempertanggungjawabkan keputusannya kalu kemudian tafsir yang mereka lakukan ternyata salah???
    Belum lagi implikasi yang mungkin muncul secara sosiologis. Andaikan umat ahmadiyah bersedia untuk mendirikan agama sendiri dengan menyatakan diri mereka bukan Islam, “nama” agama apakah yang harus dilekatkan kepada mereka secara administrasi kependudukan (mengingat negara kita masih pecaya dengan pentingnya label agama dalam ID card yang kita punya). Sebuah dekonstruksi yang harus dilakukan secara menyeluruh apabila konsistensi keputusan MUI ini harus dilakukan.
    Perlu diketahui bahwa ahmadiyah telah hidup tersebar di lebih dari 185 negara di dunia. adapun pelarangan yang dilakukan terhadap ahmadiyah terjadi di negara-negara seperti Pakistan yang memang memiliki banyak konflk horisontal didalamnya ataupun di arab saudi yang sangat tertutup dan konservatif (bahkan melarang pembangunan gereja). Bahkan negara seperti Iran oun tetap membiarkan ahmadiyah melakukan kegiatan organisasi dan keagamaannya.
    Alangkah baiknya apabila MUI lebih terfokus pada kegiatan himbauan-himbauan yang tidak bersifat kontradiktif dengan apa yang tertuang dalam deklarasi Universal tentang hak-hak asasi manusia. Secara lebih spesifik, alangkah lebih baik kalu kemudian MUI kembali kepada fatwa pada tahun 1980 yang walaupun menyatakan ahmadiyah berada di luar islam, akan tetapi lebih terfokus pada himbauan agar masyarakat tidak terpengaruh dengan ajaran itu dan meminta ahmadiyah untuk kembali ke ajaran yang benar. Sebuah himbauan yang menghargai kebebasan masyarakat untuk melakukan apa yang menjadi hak asasi dari mereka.
    Akan tetapi akan menjadi solusi yang paling baik apabila MUI dibubarkan dengan berkaca pada keputusan-keputusan yang telah dibuat selama ini dikaitkan dengan konteks kepentingan bangsa untuk bersatu dalam keberagaman dan kebebasan.AMIN

  11. Wow, seharusnya anda membuat post sendiri man Yunarto Wijaya.

    Dari sekian panjang pendapat Anda. Sudah ketahuan apa yang anda inginkan.

    “Akan tetapi akan menjadi solusi yang paling baik apabila MUI dibubarkan dengan berkaca pada keputusan-keputusan yang telah dibuat selama ini dikaitkan dengan konteks kepentingan bangsa untuk bersatu dalam keberagaman dan kebebasan. AMIN”

    Komentar saya:

    Masalahnya sepertinya banyak, tapi tetap saja berujung pada satu; “Mirza Ghulam Ahmad”. Lepas dari semua anggota jemaah Ahmadiyah atau apapun yang mereka lakukan di seluruh dunia. JIka mereka masih meletakkan MGA sebagai sesuatu layaknya “Imam Mahdi” atau “Nabi Terakhir” atau “Nabi Penutup” maka sebagian besar umat Islam tentu akan protes.

    Tapi lebih dari itu, saya berterima kasih kepada Mas Yunarto Wijaya yang telah berkenan berbagi pendapat dan ide di sini.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    “Andai Rasulullah masih hidup tapi masih ada orang lain yang berani mengaku bahwa ia adalah rasul terakhir. Mungkinkah Rasulullah mendiamkannya?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s