Cinta Dua Pendiam


summer

Cinta Dua Pendiam
Oleh Wim Permana

Aku jatuh cinta padanya dengan diam
Tatkala aku tahu bahwa ia juga tahu

Biasanya ia tidak bisa diam di hadapan mataku
Tapi hari itu ia melukiskannya

Beberapa tapak sebelum menuju rumah cinta
Aku berkedip lalu menatapnya
Tapi ia tak terkesima
Justru matanya diam membuang ke tanah

Ah sial ada apa sebenarnya?

Aku mulai berpikir
Kuhunus rasaku biar tajam, dan
Akhirnya aku simpulkan

Hei, dulu aku juga begitu
Jantungku tak bisa tenang menatap kesederhanaannya
Dan sekarang aku diam,
Ya, kembali diam
Terdiam

Bukankah ini,
Jangan-jangan
Ia merasakan apa yang kurasakan sedang

Mungkinkah?
Jelas mungkin!
Aku dan dia kan sama

Memang benar
Dalam hati kita susah tuk diduga
Tapi kalau cinta sudah jatuh di kelopak mata
Pasti kan sulit meletakkannya kembali di tempat semula

Benarkah?
Pasti!
Karena aku pernah mengalami

Rasa cinta yang satu ini bakal aneh
Bagaimana ia bisa lahir tanpa kalimat keramat
Kapan episode terakhir akan bergulir
Entahlah, kulo boten ngertos ……

Ah sudahlah,
Cukup …. cukup …
Biarlah seperti ini saja
Bla .. bla … bla …
Biar tak ada sumpah berbusa lewat lidah
Biar tak terpenjara oleh surat-surat yang kan berkarat

Akhir kata
Sesaaat setelah puisi kumuh ini terbuat
Hatiku yang masih kecil berkata
"Alhamdulillah, untung dia tidak tahu kalau aku mencintainya."

Palembang, 8 Agustus 2002
Diedit ulang di
Yogyakarta, 18 Agustus 2008

Catatan:

Puisi ini aku tulis ketika aku masih duduk di kelas 2 SMA. Yang kumaksud dengan "rumah cinta" pada baris ke-5 adalah mushola SMU N 17 Palembang. Ya, soalnya aku sering melihat gadis yang kumaksud ini di seputarannya.

Beberapa baris dari puisi ini sudah ku edit mengingat Wim yang sekarang tentu saja sudah tidak sama lagi dengan Wim yang dulu. Salah satu contoh perubahan itu terdapat di baris terakhir. Di situ aku tulis:

"Alhamdulillah, untung dia tidak tahu kalau aku mencintainya."

Padahal aslinya,

"Alhamdulillah, ternyata syaitan tidak taku kalau aku sedang jatuh cinta."

Lha terus kenapa diubah,

Ya iyalah, karena [sekarang] aku baru tahu kalau syaitan itu pasti tahu setiap kali kita sedang jatuh hati kepada seorang perempuan. Sungguh, kemampuan syaitan dalam memanfaatkan perempuan sebagai sarana perusak iman seorang pemuda benar-benar tidak bisa diremehkan. Jangankah pemuda, lha wong rahib aja bisa terpedaya karena umpan wanita ini kok. Betul nggak?

image

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

2 thoughts on “Cinta Dua Pendiam”

  1. assalamu’alaikum mas wim
    puisinya cukup menyentuh dan membuatq teringat masa2 SMA dulu, tetep berkarya ya mas wim, puisi2nya mas wim ga hanya bagus tapi kritis, romantis dan tentu saja lucu2, he..he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s