Apa yang bisa merusak seorang muslim dalam semalam?


To de point …

Boleh percaya boleh nggak. Saya putuskan bahwa yang bersalah dalam hal ini adalah acara-acara TV yang diputar di stasiun TV Indonesia. Khususnya yang dimulai dari jam 19.30 ke atas. 

Lha kenapa? Kok bisa sih?

Soalnya banyak syahwatnya. Di mana channel diputar, di situlah syahwatnya berada. Duh, benar juga keputusan salah seorang temenku, Yulian Purnama. Syahdan sebelum menikah, Ia pernah berujar kepadaku bahwa Ia ingin sekali sebuah keluarga atau rumah tangga yang tidak dihuni oleh benda yang popular dengan sebutan “Kotak Ajaib” ini. 

Awalnya saya agak rancu dengan pendapat atau pernyataan itu. Singkat kata, saya menganggap Ian – nama panggilannya – sebagai seorang muslim yang terlalu primitif. Masa di era informasi ini dia tidak mau menginstall TV di dalam rumahnya. Bukankah semua orang Indonesia, baik miskin maupun kaya juga punya benda yang satu ini. Di era 40-an, TV memang barang tersier. Tapi di era sekarang, TV sudah seperti pintu.

Ga ada pintu, rumah jadi lucu.

Ga ada TV, rumah bakal jadi kaku.

Ah, aku memang sungguh egois kala itu. Tapi sekarang aku barulah sadar. Ternyata Ian benar. Ada seribu masalah dengan kotak media yang satu ini. Tentu, secara logis, bukan TV sebenarnya yang salah. Tapi akulah, sang penonton, atau mereka lah, para produsen acara TV, yang sebenarnya salah

Kesalahan konsumen dan produsen

Saya selaku penonton telah gagal dalam menjaga mata dan hati saya dari program-program yang ditawarkannya. Sementara para produsen itu juga sudah gagal dalam menyediakan tayangan yang tidak berdampak buruk bagi iman dan akhlak seorang muslim. 

Coba bayangkan, acara-acara yang diimpor dari Hollywood benar-benar menayangkan sebuah pemandangan yang sebenarnya jangan kan  diberi rating “perlu bimbingan orang tua“, lha wong diberi label “dewasa” saja tayangan itu juga tetep tidak pantas. Apalagi untuk negara dan bangsa yang banyak muslimnya seperti Indonesia ini.

Haruskah hidup tanpa TV?

Sayang juga kalau tidak ada TV di rumah. Bukannya saya berpihak pada kezaliman dan syahwat. Tapi kita harus mengakui juga bahwa benda ini benar-benar seperti pisau bermata dua. Kalau kamu pakai dia dengan baik ya dia bisa baik. Tapi kalau kamu memakai dia untuk yang buruk maka dia bisa jadi memberi dampak buruk. Persis seperti pisau. Ga jauh.

Terus terang, apa yang membuat saya sangat takut untuk menguninstall TV di kos saya adalah ketakutan saya jika saya tidak bisa lagi menikmati acara-acara favorit. Sebut saja acara sport macam Liga Italia, Liga Inggris, Lensa Olahraga, dan Sport 7.

Sungguh, sayang sekali rasanya kalau aku sampai tidak menyaksikan gol-gol indah dari lapangan sepak bola. Selain acara sport, ada juga acara kuliner dan laporan perjalanan wisata yang sangat cocok dengan salah satu sisi diriku yang sangat menggemari jalan-jalan dan petualangan.

Pilih mana? 

Tapi kembali lagi, taruhannya memang sangat besar. Kalau ada TV, syahwat ku siap-siap harus dipermainkan oleh TV dan kandungannya dan ini berarti akan berujung pada “DOSA”. Tapi kalau tidak ada TV, berarti aku juga harus siap kehilangan salah satu penghibur jiwaku; gol-gol, pemandangan alam yang indah, juga makanan yang enak dan menawan lidah.

Sebagai Penutup

Terus terang aku masih bingung. Toh meskipun begitu, tulisan ini akan tetap aku terbitkan di blog ini. Tujuannya jelas sekali.

WAHAI PARA PENGUNJUNG DAN PEMBACA YANG BUDIMAN
AKU BENAR-BENAR BUTUH BANTUAN

Sekian untuk hari ini. Terima kasih dan ……..

Wassalam.

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

9 thoughts on “Apa yang bisa merusak seorang muslim dalam semalam?”

  1. Assalamualaikum, akhi….

    Semoga Allah menunjukkan jalan terbaik bagi hambanya…

    Tulisan yang bagus, otak saya juga sedang berotasi memikirkan hal diatas.

    Jangankan di TV, di realita kehidupan kita juga banyak bertebaran aurat yang terbuka.

    Allah mengamanahkan mata, telinga, pikiran dan hati kepada kita untuk selalu mencari kebenaran-Nya.
    Jadi, saya kira kita yang harus memilah-milah tontonan yang bermanfaat untuk kita.

    So, kembali kepada insan masing-masing.

    Assalamualaikum…

    pengelanahidup.blogspot.com

  2. wow, begitu parah kah TV? saya baru sadar klo sekarang jarang nonton TV, paling klo ada pertandingan bola aja ato balap GP/F1🙂

    tapi wim, masih sempatkah seorang muslim menonton TV? padahal masih banyak kewajiban yg harus dilaksanakan? ah, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan nih..😦

  3. 😀 saya lupa yang nulis essay berjudul NOT TO BOOK, NOT TO TV. kira-kira judulnya gitu. isinya mempaparkan bagaimana kebiasaan rakyat indonesia beralih dari membaca buku ke menonton TV. Jamannya suharto banget, ada siaran yang khusus buat petani, di situ diajarkan gimana caranya bis dapet panen yang bagus, melimpah. Hmmm, rasanya kebanyakan rakyat indonesia lebih suka belajar secara visual.. makanya kebiasaan membaca buku di negara ini menurun.😦
    🙂 membahas soal manfaat, kok cuma TV yang diulas? gimana sama bacaan-bacaan? koran, majalah, buku, selebaran.. kayaknya sama aja kayak siaran TV. kualitasnya sama-sama turun, kuantitas naik. kayaknya gak etis kalau menyebutkan produk.

    saya gak tahu lho, saya termasuk muslim sejati era saat ini atau bukan, karena (maaf) menurut sudut pandang saya, orang islam sekarang terlalu menutup diri dari dunia luar. paranoid. ekstrimis. terlalu meng-under-estimate.

    Primitif? enggak. cuma ya itu tadi, terlalu meng-under-estimate-kan. paranoid banget sieh. lihat ini cacat dikit : “astagfirullah”, lihat itu buruk dikit : “masya allah”, lihat sana gak bagus dikit : “Ya Allah!”. Akhirnya traumaaaa…
    Hey dude, no body is perfect, isn’t it? kalau mau menghindarkan diri dari hal-hal semacam itu ya tinggal lah di gua gelap dan gak ada orang, paling cuma tokek.

    hidup itu maju terus ke depan, bukan malah mundur kebelakang. katanya umat islam harus gemilang…? gemilang kok menjauhi informasi dan perkembangan zaman… gak konsisten. setengah-setengah. gak prinsipal. plin-plan.

    kalau sampeyan mengijinkan dan gak risih, saya mau komentarin komentator bernama…

    # alva.hendi
    emang seorang muslim itu ngerjain apa aja sampai gak sempet nonton TV?
    cuma orang muslim aja ya yang gak sempet?
    emang nonton acara apa sieh?
    ini kebanggaan apa kekecewaan mas?

    Thank’s😉

  4. Assalamualaikum
    @mew da vinci: Tampaknya anda harus belajar lg tentang syari’at islam yg benar. Jika anda sudah paham, niscaya anda akan mikir lg utk memberikan komentar seperti itu.. Atau bisa dikata anda psti ingin segera membuang TV yg ada di rmh anda.

  5. fungsinya akal, wim. di situlah fungsi akal kita diuji:mrgreen:
    mau buat nonton indosiar dengan sinetron dubbingannya atau buat nonton metro tv? tv itu sama kayak pisau, kok.

    (btw, aku sendiri jarang nonton tv. cuma standby kalo ada bal2an sama doraemon aja😀 )

    kalo buat aku pribadi, sih, ya tinggal nggak usah nyetel pas tayangan2 nggak bermutu itu, wim. cuma kalo memang takut tergoda, silakan, mau ditinggalkan 100% tivinya juga ndak pa-pa. boleh disumbangin aja tivinya ke himakom, biar anak2 di situ bisa teriak2 lagi kayak pas waktu nonton thomas-uber kemarin itu, waktu di sana masih ada tv-tunernya:mrgreen:

    @ rismaka

    ah, nggak harus ditanggapi seekstrim itu, kok. syariat pun bergantung pada penafsiran, kan? (dan siapa yang bisa menjamin bahwa syariat yang kita ikuti penafsirannya adalah yang paling benar?😀 masih banyak ulama yang tidak melarang tv, kok) tinggal disikapi manfaat dan mudharatnya thd suatu hal aja.

    kalo memang tv itu banyak mudharatnya buat njenengan, ya ndak masalah kalo njenengan mau mbuang tv njenengan. tapi buat yang masih bisa mengambil dan menimbang manfaatnya, ya bukan berarti kita harus maksa dia supaya dia ikut-ikutan jalan pikiran kita, kan?

    toh kalo kita nggak bisa mengambil sebuah manfaat dari suatu hal, bukan berarti orang lain itu sama nggak bisanya seperti kita. dan dalam menyikapi sebuah hikmah, daya serap kita dalam menyikapinya sebenarnya cuma masalah kepekaan dan tingkat kecerdasan kita aja, kok😆

  6. matikan tivimu, selesai.. hehehehe.. tipi itu candu, apalagi kalo dah ngikutin serial, wah… ndak ada habisnya,

    tips menghilangkan candu tivi.
    1. jangan letakkan tivi diruang keluarga. atau ruang yang bisa menyedot energi seluruh rumah untuk menatap tivi itu, ya contohnya di ruang belakang rumah.
    2. pasanglah koneksi internet dirumah anda (maaph promosi)
    3. hilangkan sesuatu yang bisa membuat anda nyaman di depan tivi (sofa, kasur, kursi santai, dll)

    semoga bermanfaat,

  7. waduh berat jg yaaa, klo harus ninggalin TV karena yang aq tw TV tuh juga banyak manfaatnya, seperti siaran pagi, banyak stasiun TV yang menyiarkan acara rohani Islam, saranq mending Wim km nontonnya pas pagi2 aja abiz shubuh, ntar klo udah menjelang siang dan malam jangan nonton coz banyak bgt acara yg ga baik.

    Klo aq sih cewek jadi ga mengundang shahwat sama sekali.
    Mungkin bagi para kaum adam diharamkan untuk nonton TV coz itu bisa mengundang shahwat, betul?

    Di TV juga banyak informasi yg baik dan aq akui juga sih banyak yang buruk, i think thats not big deal, bagaimana qta menjaga diri kita hal2 yang mengundang syahwat para kaum adam……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s