Interview with Alva Hendi, the co-founder of Mbois.com


Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum wr. wb.

mbois

Homepage Mbois.Com. Diprioritaskan untuk orang bule juga ternyata ….

Di sebuah sore yang menawan di sudut perbatasan kota Jogja-Bantul, matahari sebenarnya belumlah terlalu jingga ‘tuk benamkan dirinya di ufuk barat sana. Tapi Mas Alva, begitu saya memanggilnya, sudah memutuskan untuk meninggalkan kos-kosan saya.

“Ada acara,” begitu katanya.

Sebenarnya ingin sekali saya menahannya agar tinggal lebih lama di kos saya. Minimal satu hingga dua jam lagi. Maksud hati biar tambah romantis silaturrahminya. Tapi apa boleh buat, itulah risiko kalau seorang anak muda sudah memutuskan untuk menjadi entrepreneur. Pokoknya sibuk….

Sebelum pulang, saya banyak menanyai Mas Alva seputar Mbois.com (Shopping Center for Indonesian Handicraft and Jewellery), proyek barunya yang membuat dia harus melepas posisinya di salah satu ISP besar di Kota Gudeg ini. Sebuah keputusan besar yang saya yakin hanya segelintir orang berani untuk mengambilnya. Terlebih di usia semuda Mas Alva, under 30 bro ….

Nah bagi para pembaca dan pengunjung semua, berikut ini adalah sekelumit hasil interview saya dengan jebolan D3 Komsi dan S1 Ekstensi Elektro UGM ini. Semoga ada manfaatnya. Amin.

————————————

Wim: Sebenarnya Mbois ini dibangun pakai apa (baca: pakai CMS atau tidak) ya Mas?

Alva: Masa kamu ga tau?

Wim: OS Commerce ya? Atau buat dari awal (istilah kerennya: from scratch)?

Alva: Bukan, kami pakai Magento.

Ayo lanjutkan membacanya, biar bisa tahu kendala utama yang dialami Mas Alva dalam menjalankan bisnis ini.

alva

Sang entrepreneur muda, Alva Hendi Muhammad, S.T.

Wim: Ha, Magento?! (sihan deh aku ….😦 ). Servernya di mana nih Mas?

Alva: Servernya di Amerika.

Wim: Lha kok,

Alva: Memang yang beli kebanyakan masih dari Indonesia, tapi kita target ke depannya memburu konsumen luar negeri.

Wim:
Oohh, pantes, soalnya Mbois memang lebih cenderung menampilkan sosok ke-internasionalannya dengan menjadikan bahasa inggris sebagai default bahasanya. (ssttt.. sebenarnya fitur bahasa Indonesia-bnyajuga kurang optimal tuh Mas).

Promosi

Wim: Sudah berpromosi ke mana saja nih Mas?

Alva: kalau online kita sudah menyasar ke para pengguna social network macam Facebook dan Friendster. Untuk calon konsumen B2B-nya kami sudah mencoba Alibaba. Kalau offline, rencananya kami mau membuat pamflet dan mengikuti pameran yang ada di Jogja.

Wim: pameran komputer nih?

Alva: Ya nggaklah, pameran kerajinan kali.

Wim: Traffick pengunjung Mbois.com sendiri bagaimana Mas?

Alva: Ya lumayan, sehari kadang ada sekitar 50 sampai 100 hits (page view).

Wim: Oww… (dengan nada lemah, butuh bantuan seorang SEO or e-marketer nih)

Alva: Ya begitulah, mungkin karena kami masih baru.

Wim: Hmm, kalau penjualannya sendiri?

Alva:
Lumayan, ada kok. Tapi masih orang dalam negeri. Biasanya mereka membeli barang untuk dijadikan souvenir komunitas.

Wim: Oh gitu. Keren juga ya. Btw, kalau pengadaan barang-barang dagangan sendiri bagaimana?

Alva:
Oh itu kita sendiri yang membuat (kata Mas Alva menunjuk Jaket bermotif batik yang keren dan unik di situsnya).

Wim:
Wah, agak susah dong Mas. Kok tidak menyuruh atau kerja sama dengan orang lain saja. Jadi Mbois yang merancang dan menentukan spec barang, nanti orang lain yang mengerjakan.

Alva:
Sebenarnya kami juga sudah mencoba model seperti itu, cuma banyak kendalanya. Diantaranya yang paling menonjol adalah soal kualitas hasil pesanan. Terkadang, apa yang kami minta dan sudah disetujui di depan, tidak bisa dipenuhi oleh si pembuat (baca: kontraktor barang atau kriyanya). Misalnya ada masalah di desain, bahan yang dipilih, dan lain-lain.

Wim: Lha, pantesan. Oh ya, ada kendala lain tidak Mas sampai sejauh ini?

Alva:
kendala yang paling terasa sampai saat ini mungkin pada biaya ongkos kirim. banyak calon-calon pembeli yang batal membeli gara-gara biaya ongkos kirim yang belum bisa mereka tolerir.

Wim: memangnya berapa biaya ongkos kirim barang-barangnya?

Alva:
Ya tergantung, ada yang 20 ribu, ada juga 30 ribu. Tergantung mau dikirim ke mana. Yang jelas, perusahaan pengiriman biasanya menghitung bobot barangnya menggunakan berat. misalnya 0 – 1 kg = Rp XXXX?

Wim:
Oh iya juga sih. kalau harga jaketnya saja Rp. 149.000, berarti gara-gara ongkos kirim jaket itu akan menjadi Rp. 149.000 + Rp. 30.000 = Rp. 179.000 (hanya contoh).

Alva: Nah itu dia.

Wim: Kalau orang jogja yang beli dari sini tidak dikenai biaya toh Mas.

Alva:
Oh ya nggak. Harganya sama persis dengan yang tercantum di situs. datang saja ke markas Mbois, Ngadinegaran MJ III/165 Yogyakarta.

————

jam di MS. Windowsku menunjukkan pukul 16.30 WIb plus-plus.

————

Alva: Eh Wim, sudah dulu ya. Sebaiknya saya pergi dulu. Ada acara.

Wim: Yahhh, mbok nanti aja dulu Mas.

Keputusan Mas Alva tampaknya sudah bulat. Saya hanya bisa mengantarnya ke depan kos-kosan saya. Mas Alva lalu memutar Motornya, mesin pun hidup. Sambil ngacir tidak lupa dia bilang, “terima kasih ya. assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam,” jawabku dengan riang.

Ketika Mas Alva pergi, saya hanya bisa tersenyum pada diri saya sendiri. Saya jadi teringat kata-kata mutiara di salah satu wallpaper komputer saya;

The tragedy of life is not that it ends so soon.
But that we wait so long to begin it.

Ha .. ha …. saya yakin kalau Mas Alva beserta partnernya yang anak arsitektur mungkin adalah salah dua di antara manusia-manusia yang sudah keluar dari “tragedi” kehidupannya sendiri.

Impian, apapun itu bentuk dan risikonya, memang harus dimulai. Karena kalau tidak, berarti kita sebenarnya hanya sedang berangan-angan. Kosong!

alva 2

Selamat berjuang untuk Mas Alva dan partnernya. Sampai page view penghabisan ya. Ha…. ha… ha. Buat yang ingin jadi teman mas Alva di Friendster, ini linknya. Sstt…orangnya ganteng juga loh. Iya khan?

Sekian. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jika anda tertarik dengan info-info seputar IT, gadget, kehidupan, islam, dan sastra maka berlangganan rss feed dari Wimkhan bukanlah hal yang sia-sia. Insyaallah gratis dan bermanfaat. Amin.

Sekilas tentang penulis blog ini

Wim Permana adalah lulusan S1 Ilmu Komputer UGM tahun 2008. Tertarik dengan dunia Web 2.0, SEO, gadget, startup, entrepreneurship, blogging, twitter, dan social network. Saat ini bekerja sebagai paid blogger di beberapa situs atau blog milik orang luar. Di luar itu, Wim tetaplah seorang biker dan pujangga yang ingin sekali menulis dan menerbitkan novel yang sudah lama ada di kepalanya.

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

4 thoughts on “Interview with Alva Hendi, the co-founder of Mbois.com”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s