Tips untuk sukses atau gagal interview


gladwell

Sebagai seorang Job Seeker, insyaallah saya mungkin sudah bisa dianggap sebagai orang yang berpengalaman dalam hal job interview atau tes wawancara. Sejak tahun 2008 – sebelum saya lulus dan diwisuda – sampai saat tulisan ini dibuat, saya sudah tidak sanggup lagi menghitung jumlah interview yang pernah saya lakoni. Mulai dari perusahaan lokal (skala Yogya), nasional (Detik, Astra, Muamalat, dll), bahkan internasional (US, England, Swiss, Australia, dll), alhamdulillah saya pernah mencicipinya.

Beberapa diantaranya memang berhasil – yeah, I got those jobs, tetapi kebanyakan justru gagal. Lha kok bisa? Berikut jawabannya. Terus terang saya berharap agar anda tidak mengulangi kesalahan atau kekeliruan saya ini.

1.Tidak antusias

Tidak antusias adalah pangkal kegagalan untuk banyak hal; tidak terkecuali untuk tes wawancara atau job interview. Seorang yang tidak antusias dalam menjalani tes wawancara biasanya adalah orang yang melamar posisi atau perusahaan – atau keduanya – yang tidak disukainya. Doanya biasanya seperti ini, “Ya Allah mudah-mudahan aku tidak diterima … amin … hitung-hitung lumayan latihan interview … hihihihi …”

Saya pernah suatu kali dihadapkan pada kondisi seperti ini. Ketika itu, saya mendapat panggilan dari perusahaan yang memang saya lamar, tapi sejatinya saya tidak benar-benar ingin bekerja di perusahaan itu.

Kalau begitu, lalu kenapa tetap melamar? Maklum, tekanan dari luar; dari orang tua, om, mas, mbak, teman, bahkan adik. Pernahkah anda di posisi seperti ini?

Pada saat interview berlangsung – bahkan sejak berangkat dari rumah dan di dalam perjalanan – hati dan pikiran tidak berada dalam suasana yang ceria. Alih-alih bersemangat, saya justru bersikap “ogah-ogahan”.

Meminjam istilah da’i sejuta ummat, KH Zainuddin, MZ, “Ya Allah keterima ya syukur ga ya udah”.

2. Tidak siap

Suatu hari saya pernah mendapat panggilan kerja dari PT Astra Internasional. Jujur, saya sebenarnya mempunyai minat besar untuk bekerja di perusahaan sebesar Astra. Sayang, ketika itu saya melakukan kesalahan fatal nan udik. Jadi tepat pada saat hari-H interview, saya pergi dengan semangat 45 ke Gedung Astra dengan kemeja lengan panjang motif KOTAK-KOTAK warna biru (yang sebenarnya MAKRUH dipakai pada saat interview), tanpa ikat pinggang (iki sing jenenge ndeso lan ndoso), celana non-dasar (ada garis-garisnya), plus satu lagi hal yang super konyol; sepatu futsal warna hitam merek Tomkins yang saya pinjam dari adik angkatan saya (silahkan kalau mau tertawa, saya sudah siap untuk ditertawakan … wakakakakaka …).

Dari uraian di atas, saya harap Anda sudah paham dengan orang yang INGIN KERJA tapi TIDAK SIAP. Anda boleh saja mendapat nilai A untuk mata kuliah Kalkulus Lanjut di Universitas Anda, tapi itu bukan berarti penampilan bisa diberi prioritas “F” pada saat interview. Emang PT ini punya engkong lo ….

Anda masih menertawakan saya? Tidak apa-apa kok, saya ikhlas … sungguh … (sambil menangis.. hikks …hikkks …).

3. Tidak rendah hati

“Jadi Wim, lingkungan kerja seperti apa yang anda inginkan?” tanya interviewer.

“Kalau bisa sih yang seperti Google Bu. Jadi tempat kerja itu seperti ruang bermain saja; tidak ada sekat, banyak game, makanan gratis, dan yaa…. yang seperti-seperti itulah Bu …” jawabku enteng.

“Hmmm … bagus ..bagus …” balas interviewer sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Perhatikan jawaban saya di atas, adakah yang salah? Tampaknya semua normal-normal saja bukan? Memang demikianlah seharusnya kalau perusahaan yang sedang mewawancarai saya adalah Microsoft, Apple, HP, atau IBM. Tapi bagaimana kalau perusahaan yang mewawancara saya ini adalah sebuah perusahaan IT yang masih berusia muda (alias seumur jagung) yang kantornya saja masih mengontrak, dipenuhi sekat-sekat antar posisi, plus harus rela berbagi Mushola, WC, dan teras dengan perusahaan-perusahaan lain di satu gedung yang sama?

Hahahahaaaa …. ingat bung, bukan hanya temanmu yang bisa sakit hati, perusahaan juga lho (yang sakit hati sebenarnya HR nya). Mulutmu adalah harimaumu. Jadi mending pakai SMS aja (sori iklan AS mau lewat).

Lain kali kalau interviewer bertanya, prioritaskan jawaban yang bagus; ya bagus untukmu, juga untuk bakal perusahaanmu. Berikut contoh jawaban yang bagus untuk pertanyaan di atas.

———————–

“Jadi Wim, lingkungan kerja seperti apa yang anda inginkan?” tanya interviewer.

“Saya sih fleksibel orangnya bu… kerja di luar ruangan oke, di dalam pun jadi. Mau dipekerjakan untuk sesuatu yang sifatnya individual saya bisa, dalam tim pun saya sudah terbiasa. Di dalam kantor perusahaan Ibu dengan suasana seperti ini saya juga bisa bekerja kok Bu. ” jawabku enteng.

“Hmmm … bagus ..bagus …..” balas interviewer sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “KAPAN BISA MULAI BEKERJA?” tambah sang interviewer sambil tersenyum manis.

Nah, sekarang Anda sudah tahu kan apa yang saya maksud dengan rendah hati?

Sekadar pengingat, ketiga TIDAK di atas bukanlah hal mutlak. Seorang millionare asal USA, Chris Gardner, dalam buku best seller-nya yang berjudul the pursuit of happyness, menceritakan bahwa dia tetap diterima bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan investasi meski pada saat interview dia baru saja keluar dari penjara sambil berlari (catat, Chris benar-benar mendatangi tempat interviewnya langsung dari penjara dengan berlari; tanpa mandi, jas, dasi, sarapan, minum kopi, atau hal-hal normatif lainnya).

Ya ya ya … manusia hanya bisa berusaha, tapi Allah lah yang menentukan. Kalau Wim sih hanya bisa menulis dan membagi pengalamannya, Anda lah yang mengambil keputusannya.

Oke, saya tahu anda masih ingin menertawai saya gara-gara sepatu futsal tadi bukan? Tertawalah terus, semoga saya mendapat pahala dari keriangan hati anda, amin …. jangan lupa baca ini juga:

1. PT Abal-abal
2. Surat lamaran
3. CV

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

11 thoughts on “Tips untuk sukses atau gagal interview”

  1. tulisan yang bagus mas. Suka banget baca tulisan mas. Kebetulan saya ada interview dengan Astra jumat ini, tip dari mas benar2 dapat membantu saya.
    Sekarang kerja dimana mas?

  2. bagus bagus kebetulan saya barusan interview tapi jawaban saya kok tidak bisa diplomatis seperti yang coba saya latih, malah seperti percakapan antar teman… apa ini ciri-ciri akan gagal? hehehe…

  3. kayaknya saya gagal interview gaar2 poin yg pertama mas. jawab terlalu lugu bin teramat polos sekali….hikz…
    interviewer : sudah berapa perusahaan yg anda lamar?
    gw : banyak pak.
    interviewer : apa aja dan kenapa pilih itu?
    gw : lupa pak. banyak. dari job fair jadi saya lamar aja semuanya biar gk rugi.
    T_T

  4. waktu interview,saya nangis karena dtanya soal ibu.tp awalny yg mewawancarai saya udh dgr crta saya klo saya seorg pkerja keras.ap peluang dtrima sya kecil?😦

    1. Kalau mbak/bu intan jujur, pasti akan dapat hadiah yang terbaik. Jangan putus asa. Allah pasti di belakang hamba2nya yang jujur. Apalagi yang dilengkapi dengan tangisan. Insyaallah. Aman. Gak dapat di situ mungkin dapat di tempat lainnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s