Prahara di hari raya idul adha


namib-desert

Memangnya ada apa di hari idul adha kemarin? Adakah pembantaian massal? Adakah genosida? Tidak kok. Sebenarnya tidak ada hal-hal besar yang terjadi di Hari Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Djulhijah 1430 H (27 November 2009) kecuali gagalnya seorang pemuda biasa untuk menunaikan kewajiban shalat hari raya idul adha.

Kenapa sampai gagal? Mungkin karena sang pemuda tidak mampu menahan nafsunya. Nafsu untuk membunuh rasa lapar yang menyerangnya sehabis subuh. Salahkah makan setelah salat subuh? Tidak, untuk orang normal tentu saja tidak. Tapi bagi sang pemuda, memakan sesuatu setelah subuh bisa jadi malapetaka. Nasi pecel madiun, setusuk sate ayam plus susu jahe hangat di subuh itu benar-benar tidak akan terlupakan dalam sejarah hidupnya.

Anyang-anyangan

Sang pemuda sejatinya tampak sehat dari luar. Tidak ada sesuatu kekurangan apapun, kecuali pada saluran pencernaannya. Entah kenapa, sang pemuda selalu mengalami kesulitan untuk mengeluarkan air seninya manakala ia baru saja menyelesaikan proses buang hajat besarnya. Memang air seni itu keluar, tapi tidak mulus. Dalam artian, setelah air seni pertama keluar, sang pemuda selalu merasa bahwa masih ada air seni yang ingin keluar dan keluar lagi. Mending kalau keluar-macetnya hanya sampai dua atau tiga kali. Tapi ini tidak, keluar-macet itu terjadi hingga puluhan kali atau sekitar 30 sampai 45 menit.

Lalu apa kaitannya dengan Idul Adha dan prahara? Dengan gangguan seperti di atas, itu berarti jika sang pemuda mulai masuk ke kamar mandi pukul 06.00 AM, maka ia mungkin baru bisa keluar dengan perasaan lega – dengan kandung kemih yang sudah tidak menahan air seni – pada pukul 07.00 WIB atau 07.15 WIB.

Di hari-hari biasa, tentu ini tetaplah sebuah masalah, meski tidak signifikan. Namun di Hari Raya Idul Adha yang telah diwajibkan seorang muslim untuk menunaikan shalat berjamaah di waktu paginya, bisa jadi ini adalah PRAHARA untuk sang pemuda.

Sekerat Optimisme

Di dalam kamar kostnya yang sederhana, sang pemuda sungguh sedih dan kecewa. Ia memang berhasil menuntaskan hajat di tempatnya. Tapi ia pesimis. Mampukah ia menunaikan shalat idul adha tahun ini?

Berbekal sekerat optimisme dari lubuk hati, sang pemuda mencoba untuk berjuang meraih ridho-Nya. Dipakainya lah salah satu kemeja lengan pendek terbaik yang ia miliki. Di atas kemeja itu, sang pemuda melapisnya dengan sweater favoritnya yang bermotif garis-garis berwarna merah, putih dan abu-abu. Untuk celana, sang pemuda memilih sepan panjang berwarna hitam, juga yang terbaik dari yang ia miliki. Dengan peci putih bergaris hitam melingkar plus parfum Gatsby OZONE di leher kanan dan kiri akhirnya sang pemuda keluar. Tapi sebelum itu, ia tidak mungkin melupakan dua “senjata rahasia” untuk menghadapi sholat idul adha, sajadah dan koran seadanya. Buat jaga-jaga, siapa tahu lapangannya masih basah.

Menguber Takbir Idul Adha

Bersama Permadani, sepeda urban kesayangannya, sang pemuda mulai mengayuh ke arah utara. Cuaca di hari Jum’at ini mungkin termasuk salah satu cuaca terbaik dalam sejarah Idul Adha sang pemuda. Betapa tidak? Mentari bersinar lembut, menguraikan embun dan air di rerumputan yang basah karena hujan semalam. Aspal jalanan tampak lembab tapi tidak basah, membuat roda-roda Permadani kesayangan renyah melahapnya. Sungguh …. Allah memang Allah yang Maha Indah. Sungguh teramat Maha keindahannya. TAKBIR!

Di sepanjang jalan, sang pemuda mendengar takbir terbang kesana-kemari. Menghampiri telinga kanan dan kirinya setelah sebelumnya menyelinap ke ruangan yang ada di hatinya. “Benar hari ini memang hari yang indah dengan takbir-takbir nan indah pula, tapi di mana aku bisa menunaikan sholat hari raya?” begitu gumam sang pemuda.

Sambil memperhatikan jalanan yang ramai dengan muslimin dan muslimat yang berhamburan pulang sehabis solat ‘id, sang pemuda dihantui kegetiran, “oh ya allah, imam masjid mana yang belum mengumandangkan takbir rakaat pertama solat ‘idnya?” Sang pemuda sebenarnya tahu, akan sangat sulit untuk menemukan jarum dalam tumpukan jerami, tapi lebih sulit lagi menemukan imam seperti yang dikehendakinya. Apalagi di hari raya yang Rasulullah SAW justru menganjurkan untuk mempercepat pelaksanaan sholatnya, alih-alih sebaliknya.

Ribuan meter roda-roda Permadani sudah berputar, tapi sang pemuda belum juga bisa menemukan apa yang dicarinya. Meski sudah berangkat dari Kampung Krapyak sejak jam 07.15 WIB, sang pemuda tetap saja tidak mampu menemukan lapangan atau masjid yang masih membuka diri untuk dirinya. Bahkan ketika sampai di Kampung Kasongan pada pukul 07.30 WIB, hasilnya tetap nihil. ISTIRJAA!

Ah …… sang pemuda lelah. Si permadani diarahkannya kembali ke utara. Selamat tinggal Kasongan. Selamat jalan Idul Adha. Sampai berjumpa di lain kesempatan. TAKBIR!

desert

Krapyak menyemut

Di Krapyak, jalanan sudah dipenuhi santri-santri yang lapar. Sang pemuda tahu para santri itu lapar karena mereka menyemut di warung-warung makan dan tempat penjual kue. “Apalagi yang mereka cari di sana kalau bukan makanan,” pikir pemuda. Lucunya, banyak diantara santri itu yang memilih makan di warung tempat sang pemuda makan tadi, Warung Nasi Pecel Madiun. TASBIH!

Mungkin inilah hikmahnya, sang pemuda dan santri sebenarnya sama-sama lapar. Tapi Allah memberi berkah kepada para santri karena mereka mau menahan laparnya demi ibadah yang sudah diwajibkan oleh Allah SWT. Sementara pemuda mungkin tidak serta merta berdosa karena uzur yang melandanya – wallahualam – tapi tetap lah, sang pemuda sejatinya tahu bahwa ia bisa menyelamatkan ibadahnya kalau saja ia bersedia menahan laparnya hanya untuk dua jam saja. ISTIGHFAR!

Tapi sudahlah. Satu ditambah satu sama dengan dua, semua musibah bisa diambil hikmahnya. Sang pemuda kemudian mengakhiri catatannya. Sambil tersenyum manis ia berujar, “hei, mungkin inilah gaya penulisan yang bisa kupakai untuk novelku yang pertama.”

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Laailahaillallahuwallahuakbar, Allahuakbar wa lilla hilhamd.

Krapyak, Yogyakarta, Jum’at 10 Djulhijjah 1430 H (27 November 2009)
Selesai 10.13 AM.
Wim Permana

[terima kasih]

image

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

2 thoughts on “Prahara di hari raya idul adha”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s