Demokrasi Kentut? Tergantung pemimpin ….


br02

kursi sang raja

Kadang aku bingung. Lain waktu aku juga merasa puyeng memikirkan eksistensi sesosok makhluk bernama DEMOKRASI. Benarkah demokrasi itu ada? Dan nyata adanya? Adakah sebuah pemerintahan yang benar-benar dipimpin oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat? Kalaulah ada, di manakah adanya? Kalaulah pernah terjadi, kapankah waktunya?

Musim Pilkada

Sebentar lagi beberapa daerah akan menggelar pilkada. Dan kita tahu pemda akan membutuhkan banyak dana untuk menyelenggarakan “pesta kentut” ini. Baju-baju simpatisan, poster-poster cabup atau cagub, reklame, slot iklan di media, dst, tentunya akan memakan dana yang tidak sedikit juga dari masing-masing calon peserta pilkada. Konon, uang 1 miliar adalah jumlah dana atau plafon yang terbilang masih sangat sedikit untuk bisa memenangkan seorang peserta yang nantinya akan menjadi RAJA 5 TAHUNAN di kotanya.

Demokrasi itu ilusi

Saya terkekeh membaca cerita dari tulisan Gilang Afkara dari toko buku anomali digital, penulis berbakat asal Jogjakarta ini mengibaratkan demokrasi sebagai sebuah ilusi yang direpresentasikan dengan sebuah “baju imajiner” sang raja. Sejatinya “baju imajiner” itu tidaklah benar-benar ada, tapi karena rakyatnya takut dan segan pada raja, akhirnya semua “sepakat” untuk menyebut “baju imajiner” itu sebagai “baju yang nyata“. Nah lho…..

Status “baju imajiner” yang berubah menjadi “baju yang nyata” ini memang bisa bertahan untuk beberapa lama, sampai kemudian seorang anak ingusan menyahut “Raja Telanjang…..!”. Gubraks!

sm08

i need a king who want to feed and build me up …

Kenapa demokrasi seperti kentut?

Saya menyebut demikian karena laiknya kentut, kita bisa merasakan dan menciumnya, tapi kita tidak melihatnya. Berbeda dengan gilang afkara yang jelas-jelas anti demokrasi, kalau saya lebih cenderung untuk mengembalikan status demokrasi ini kepada sang raja yang sudah terpilih melalui pesta kentut demokrasi. Beranikah sang raja melepas “jubah imajinernya” untuk kebaikan dan kearifan rakyatnya? Adakah raja yang sudi berkeringat – atau bahkan sampai bersimbah darah – demi peningkatan dan percepatan pembangunan daerahnya? Maukah sang raja memberangus orang-orang yang memanfaatkan demokrasi sebagai jalan untuk membeli hukum atau undang-undang via sidang paripurna?

Untuk seterusnya wahai sang raja…. tolong jangan lanjutkan kentut ini!!!

image by designboom.com

Penulis: Wim Permana

CPNS Pemkab Gorontalo, Entrepreneur, Blogger, Writer, Blade Rider

1 thought on “Demokrasi Kentut? Tergantung pemimpin ….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s