Dengan Apa … ?

Dengan Apa … ?

Oleh : Wim Permana

Dengan apa seorang menjadi ksatria di hadapan bidadarinya,
Inilah dia … pedangnya !

Dengan apa seorang pemuda penarik becak menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan mengayuh becaknya secepat mungkin demi waktu sang penumpang

Dengan apa seorang tukang sol sepatu menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan menjahit sepatunya serapi dan sekuat mungkin

Dengan apa seorang pandai matematika menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa suatu limit sesungguhnya merupakan nilai kemiringan busur untuk mendekati seonggok titik pada sebuah grafik

Dengan apa seorang pandai fisika menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa suatu hari Ia akan menikahi bidadarinya di planet merah

Dengan apa seorang pandai biologi menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa taksatu pun manusia yang mampu mendefinisikan arti hidup

Dengan apa seorang pandai statistika menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa ilmu inilah alat paling indah untuk menabur bunga

Dengan apa seorang genius gitar menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa Ia akan menciptakan petikan baru yang tidak ada tiruannya

Dengan apa seorang olahragawan menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan sebuah pembuktikan pada dunia bahwa jiwa yang bersih lebih berharga daripada kuatnya jasmani

Dengan apa seorang wirausahawan menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa mobil yang saat ini dikendarainya hanyalah titipan Allah semata

Dengan apa seorang pandai kimia menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa tidak ada seatompun unsur yang sia-sia di atas dunia

Dengan apa seorang politikus menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa politik itu tidak lebih dari acara jual beli dalam format berbeda

Dengan apa seorang ustadz menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa mengajar adalah tambang emas terbesarnya

Dengan apa seorang buruh pabrik menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa mengerjakan gedung seratus tingkat itu belum ada apa-apanya

Dengan apa seorang pelukis menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa hanya yang maha berkuasa mampu membuat tak hingga warna demi mata

Dengan apa seorang pedagang roti bakar menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa isi lapisan rotinya hanyalah sedikit rahasia dari masa lalunya

Dengan apa seorang budak menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa sebentar lagi Ia dan jenisnya akan bebas seperti bebasnya kupu-kupu dari kepompongnya

Dengan apa seorang filsuf menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa Ia hanya ingin menulis demi sebuah peradaban yang ada di dalam benaknya

Dengan apa seorang mujahid menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa tembok gaza tidak akan hancur kalau Ia hanya mengucapkan takbir dan basmalah

Dengan apa seorang dukun menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang penuh peluh dan rasa

Dengan apa seorang prajurit menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa mengeluarkan darah secara paksa dari tubuh manusia adalah pekerjaan paling nista selamanya

Dengan apa seorang bocah menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa Ia akan besar sekilat gumpalan awan sebelum badai tiba

Dengan apa seorang mempelai pria menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa suatu hari surga akan berada dalam telapak kaki istrinya

Dengan apa seorang programmer menunjukkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa algoritma programnya hanyalah bagian kecil saja dari otaknya

Dengan apa seorang Permana mempersembahkan cinta pada gadisnya
Dengan berkata bahwa semua kata yang diucapkan kepada rembulannya adalah ksatria-ksatria kuda berpedang yang ia lepaskan untuk menjaga bunga di hati bidadarinya

Jika Allah mengizinkan tentunya…

Krapyak, 26 Juli 2004
7.58.00.00.00.00 WIB
Senin pagi di kamar kost

Iklan

Rembulan Putihku

wahai rembulan yang memikat
di balik malam hitam nan pekat

dengan kerudung putihmu engkau merindang
menyulam bumi penuh cemerlang

sambil tiduran aku saksikan

di atas ilalang tinggi ini aku pastikan
… bahwa engkau …

*

terlampau tinggi untuk kuraih
terlalu jauh untuk kusauh

tapi aku sudah jatuh
tak pasrah aku lalu berlalu

aku ingin bersilaturrahmi
ingin
ingin sekali

*

 

aku pejam dua mata ini

biar lepas jiwa pergi
kunjungi kamu barang sekali

 

sambutlah aku duhai sayang

tetaplah di situ jangan terbang melayang

ups,

ke mana engkau menghilang?

*

sekejap mata ini membuka
rembulanku malah sedang tiduran

di sampingku ia sekarang
ia tersenyum, berbalik dan tersipu malu

alhamdulillah aku senang

06.39 AM
Sabtu
16 Juni 2007
R A Y E AR T H®

On Being A Writer

from Wim Permana

Hello Professor Karen, My name is Wim Permana. You can call me simply, ‘Wim’. I am committed to write because of – please do not surprise – my heart. Yes, the only make-sense reason when every body ask me; “Why would you become a writer Wim?” is my heart. Yes, this unreal substance call me every time I was dreaming.

I’m an indonesian, purely. My mother and my father is javanese, and I do too. But I don’t think that I’m a purely javanese since I can not speak and write with this language. Instead, I used to speak with Bahasa Palembang in my childhood and having my self try to speak and write with Bahasa Indonesia since I entered my kindergarten school.

I was born in a city called Palembang, The Capital of South Sumatera Province. It was 22 years ago, on the late night (11 pm) of january, 30th, 1985. To telling you the truth, I can guarantee that on that wednesday night when I was born, all my family was very happy to welcome me. Especially my parents, not just because the fact that I was born with a good and normal condition but also because of my status which is ‘the second son that automatically become first son’. You know, my older brother, Wim Put Wiratmoko, died since he was born. My parents flock his chick, but no response came from him. He just ……. so quiet. Oh my.

<?php the_content(‘Read more…’); ?>

My first work on writing that I remembered very much happened when I was in Junior High School. Once a time, my language teacher told my class to make a poem which all the first letter of line on our poem should use the same letter like each ours name have. For example, if your name is Andy, then you should make your first line’s letter to begin with A, and the second bait with N, and so on. What a cool thing I taught that time. I made it, I finished my poem with my own name as its title, Wim Permana, and I was very surprise when one of my close friend told me that “Wow, Indonesia seems to have another great poet”. Off course, because I was just a student, I absolutely did not take that joke seriously. Anyway, that is a joke, definitely. Since my friend him-self was, and he is, not a poet or a poem analyst, on that day nor today.

But suddenly I realize, there is something between me and this kind of activity. It is weird enough that looks like I am always be able to make a good work of this. I did not say this by my self, instead, people around me told me if I do. A few years after that poem, I was fall in love with one of my friend on that school. Her name is …… , thankfully she is married nowadays, but not with me. Fortunately.

Sure, that is not what I want to tell you at this session of writing. Things you should know is a fact that I become so productive and seriously involve with writing when I fall in love, with this girl. During the season of our love (sounds very romantic isn’t), I keep on painting her, but not with picture, yet poem. In one day, I urge my self to write a 100-line poem just for her. In fact, i was failed. How come? Yeah, I failed with those 100-line but I amazingly wrote a 200 to 300 line poem which is very special, not just for her, but also for our beautiful love letter relationship. Cool! Another sign about what am I from my lord I taught.

After I graduate from my junior high school, this God-give talent seems to be very clear in my perspective. The almost same situation happened when I was in senior high school. Again, in one of poem assignment, I wondered all my friends seems to enjoy and admired my performance, so did my teacher. They were become so quiet while and after I read my poem in front of them. They appreciate my works, but still, I feel nothing.

Three years experience in senior high school still did not make me to have a sense to become a writer. Instead, the booming of computer and information technology had push me to take major in computer science. Great, I even never thinking about getting to take major in literature and linguistic, the field my self is good most. As the time goes by, my writing talent got so clear, till I realize that I can not escape from this venom.

Well, it is not surprised to know that most of my works as a computer science student are the writer’s craft; papers, reports, articles, opinions, etc. And not just works, but also activity, organization, and community. Most of them are something that have a strong connectivity with writing. Let me list a couple of them; I joined and won the workshop of writing, third place in essay competition, director of Himakomedia, member of well known Indonesian writers community; Forum Lingkar Pena, and …….

All stories above have challenge me to accept this venom as a gift of lord. It is a bless for me. Yes I’m sure it is. At the end of this introduction, allow me to place these sentences;

I am a writer
I believe I am

Friday to Saturday 7.25 am
June 9th, 2007
R A Y E A R T H®